nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Puti Napak Tilas di Posko PDI Pandegiling pada Masa Tenang

Syaiful Islam, Jurnalis · Minggu 24 Juni 2018 23:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 06 24 519 1913439 puti-napak-tilas-di-posko-pdi-pandegiling-pada-masa-tenang-SpCTrwlWij.jpg Foto Istimewa

SURABAYA - Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno napak tilas di bekas Posko PDI Pro-Megawati di Jalan Pandegiling 223, Surabaya, memasuki masa tenang.

Masa tenang sendiri dimulai hari ini dan berakhir pada 26 Juni 2018 nanti. Setelah itu akan dilanjut dengan proses pemungutan suara Pilgub Jatim pada 27 Juni 2018.

Cucu Bung Karno itu disambut sesepuh nasionalis, Luwih Soepomo, bersama puluhan simpatisan. Dahulu, tahun 1996 sampai era Reformasi 1998, tempat itu dikenal dengan Posko Pandegiling.

Di sana masih bertengger prasasti, tetenger, yang menandai pergerakan PDI Pro-Mega. Prasasti diresmikan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tahun 2001. Pada prasasti, Puti meletakkan karangan bunga.

“Tempat dan prasasti ini menjadi saksi sekaligus bukti militansi dan kecintaan warga Surabaya kepada Bung Karno dan Ibu Megawati Soekarnoputri, yang terpatri dalam di sanubari,” kata Puti, Minggu (24/6/2018).

 Puti

Puti merasa bangga dengan perjuangan kaum nasionalis dalam mempertahankan komitmennya. “Semangat ini menunjukkan, betapa penting konsistensi dan komitmen dalam pengabdian dan bekerja," kata Puti.

Soepomo menceritakan, Posko Pandegiling menjadi awal dari perjuangan panjang PDI Pro Megawati, di bawah komando Ir. Sutjipto, mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan.

“Posko Pandegiling ini menjadi tetenger, bahwa PDI Perjuangan didirikan dengan keringat, darah dan air mata. Bukan sekedar akta notaris. PDI Perjuangan didirikan dengan banyak pengorbanan. Pewarisan sejarah inilah yang kami lakukan tiada henti, pada para generasi penerus,” kata Supomo.

Dimulai 1996, Posko itu menjadi tempat berkumpulnya massa, tempat koordinasi dan konsolidasi, sekaligus tempat Pak Tjip (panggilan Ir. Sutjipto) menjalankan bisnis konstruksi di jaman Orde Baru.

Berdirinya Posko Pandegiling dipicu oleh terjadinya Kongres PDI dari faksi Soerjadi, Buttu Hutapea, Fatimah Ahmad dan Latief Pudjosskti, di Medan, April 1996.

Tujuan kongres, mendongkel Megawati Soekarnoputri dari Ketua Umum DPP PDI Megawati Soekarnoputri. Pemerintahan Orde Baru disebut santer mensponsori, melindungi dan memfasilitasi Kongres.

“Waktu itu belum berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Perubahan itu baru dilakukan awal 1999, agar barisan PDI Pro Megawati, di seluruh tanah air, bisa mengikuti Pemilu 1999,” kata Supomo.

Megawati, putri Bung Karno itu, terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI, tahun 1993, dalam Kongres Luar Biasa di Asrama Haji, Sukolilo, Kota Surabaya.

“Kongres Soerjadi Cs di Medan, telah membakar kemarahan warga PDI yang setia pada Ibu Megawati. Masyarakat umum pun banyak yang ikut membela dan terlibat," ujar Supomo.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini