nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polri Diminta Antisipasi Serangan Teroris Pengikut Aman Abdurrahman saat Pilkada Serentak

Badriyanto, Jurnalis · Selasa 26 Juni 2018 14:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 26 337 1914170 polri-diminta-antisipasi-serangan-teroris-pengikut-aman-abdurrahman-saat-pilkada-serentak-ImcZW9D3Zx.jpg Penangkapan teroris. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polri mengantisipasi kemungkinan adanya serangan dari kelompok teroris, khususnya pengikut Aman Abdurrahman, saat pelaksanaan pilkada serentak yang berlangsung Rabu 27 Juni 2018 di 171 daerah seluruh Indonesia.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, kelompok teroris selalu berupaya melakukan serangan teror sebagai aksi balas dendam setelah Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menjatuhkan vonis mati terhadap Aman Abdurrahman selalu dalang bom Thamrin pada awal 2016.

"Pasca-vonis mati terhadap tokoh teroris Aman Abdurrahman di PN Jaksel, para pengikutnya selalu berusaha melakukan serangan teror sebagai aksi balas dendam, terutama di hari pencoblosan," kata Neta dalam keterangan yang diterima Okezone, Selasa (26/6/2018).

Selain ancaman terorisme, Neta juga mengaku mencium kemungkinan adanya konflik antarkelompok pendukung pasangan calon tertentu pasca-hari pencoblosan. Hal itu khususnya di lima daerah yakni Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, dan Sumatera Utara.

Indikasi konflik di lima daerah tersebut mulai terlihat di media sosial, yakni antarpendukung mulai melakukan "perang" di dunia maya. Meski sebatas di medsos, Polri perlu melakukan antisipasi agar perang itu tidak terjadi pasca-pencoblosan.

Neta menambahkan, salah satu cara untuk mengantisipasi konflik tersebut yakni memastikan bahwa kepolisian profesional, proporsional dan independen pilkada, sehingga potensi konflik bisa segera dicegah dan tidak melebar menjadi kekacauan yang mengganggu kedamaian pilkada.

"Situasi itu tetap harus diantisipasi, terutama saat penghitungan suara dan pengumuman pemenang pilkada, karena dikhawatirkan muncul pihak-pihak yang merasa tidak puas dan melakukan protes serta melakukan aksi anarkis di lapangan," jelasnya.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Mabes Polri gencar melakukan penangkapan terduga teroris di wilayah Jawa Barat. Aparat bergerak cepat lantaran para teroris diduga menyusun startegi untuk mengacaukan proses Pilkada Serentak 2018, khususnya di Jabar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, setidaknya ada sebanyak 13 terduga teroris yang ditangkap. Dua di antaranya tewas dalam operasi penangkapan lantaran melawan petugas di Kota Depok.

"Ada 13 orang ditangkap, termasuk yang di Depok. Di Depok ini melawan dan memegang senjata, maka tertembak mati," ujar Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin 25 Juni.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini