nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ratusan Kertas Suara Dibakar, Warga Mimika Papua Marah karena Tak Bisa Memilih

Saldi Hermanto, Jurnalis · Rabu 27 Juni 2018 13:40 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 27 340 1914615 ratusan-kertas-suara-dibakar-warga-mimika-papua-marah-karena-tak-bisa-memilih-ZfBsanRCoV.jpg Kertas Suara yang Dibakar Pihak Penyelenggara di TPS 31, Distrik Mimika, Papua (foto: Saldi H/Okezone)

TIMIKA - Pembakaran ratusan kertas suara terjadi di TPS 31, Kelurahan Koperapoka, Distrik Mimika Baru, Rabu (27/6/2018). Akibatnya, banyak warga di sekitar lokasi TPS 31 tidak dapat menyalurkan hak suaranya dalam pilkada serentak 2018 di Kabupaten Mimika, Papua.

Menurut Ketua KPPS, Rosdiane Hehataya, pembakaran kertas surat suara lantaran adanya sekelompok warga dari wilayah lain yang datang ke TPS untuk memilih dan hanya menggunakan KTP. Sedangkan menurutnya, harusnya warga tersebut membawa undangan untuk memilih dan merupakan warga setempat.

Beberapa saksi yang ada di TPS sempat berdebat soal syarat untuk ikut memilih, ada saksi yang menyampaikan bisa dengan hanya menunjukkan KTP, ada pula yang menyampaikan harus menunjukkan surat undangan. Sehingga dari dua pendapat itu tidak menemui kesepakatan, dan akhirnya TPS diputuskan untuk ditutup dan surat suara disepakati untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.

Pilkada Serentak 

"Kami sepakat dengan para saksi untuk dimusnahkan dengan dibakar. Surat suara yang kami gunakan hanya 29 surat suara," ujar Rosdiane.

Jumlah kertas suara untuk pemilihan bupati dan wakil bupati Mimika sebanyak 505 kertas suara dan hanya digunakan sebanyak 29 kertas suara, sedangkan sisanya sebanyak 476 kertas suara akhirnya dibakar. Begitu juga kertas suara untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur Papua yang jumlahnya sebanyak 512 dan hanya digunakan sebanyak 29, sisanya sebanyak 483.

Sementara itu, sebelumnya, pada saat kertas suara hendak dimusnahkan, sempat dari pihak pengawas menyampaikan agar hal itu tidak dilakukan, melainkan kertas suara dikembalikan ke KPU. Namun, KPPS bersama para saksi tetap ngotot dengan kesepakatan mereka agar kertas suara harus dimusnahkan.

"Ada dua orang bapak-bapak dari panwas yang ngotot sekali untuk (surat suara) dikembalikan ke KPU. Alasan mereka adalah, untuk mencoblos ulang," kata Rosdiane.

Terkait hal ini, Komisioner Bawaslu Papua, Anugrah Pata mengatakan, sangat menyayangkan adanya tindakan pemusnahan surat suara yang terjadi di TPS 31. Hal ini akan menjadi catatan Bawaslu untuk ditindaklanjuti, dimana akan dilakukan pemungutan suara ulang pada TPS tersebut.

Selanjutnya terkait hal ini juga, menurutnya, masuk unsur pidana. Dimana pemusnahan terhadap dokumen negara tidak boleh dilakukan, apalagi akibat dokumen negara tersebut dibakar menyebabkan ratusan warga tidak bisa menentukan hak pilihnya.

"Akan saya sampaikan ke ketua soal ini, karena kebetulan ketua lagi di Timika, biar nanti ditindaklanjuti. Kalau pidana, ini sudah masuk unsur pidana juga memusnahkan dokumen negara," kata Anugrah saat dihubungi.

Salah satu warga sekitar TPS 31, Umi Kamariba, sempat marah kepada KPPS akibat tidak bisa ikut memilih. Umi yang merupakan warga setempat dan sudah berdomisili di Kelurahan Koperapoka sejak puluhan tahun, juga mengaku tidak mendapatkan undangan dari pihak yang ditunjuk untuk membagikan undangan.

Bahkan, hal yang sama juga disampaikan warga setempat lainnya, mereka juga tidak mengenal penyelenggara pada TPS 31.

"Kalau orang sini pasti kita kenal, dan tidak mungkin kami di persulit. Ini kami orang lama disini, kami tidak dapat undangan makanya pakai KTP saja. Mereka (penyelenggara/KPPS) juga kami tidak kenal orang dari mana, tiba-tiba jaga TPS di sini," keluh Umi.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini