nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penjelasan PVMBG Terkait Aktivitas Gunung Agung

Nurul Hikmah, Jurnalis · Kamis 28 Juni 2018 20:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 28 340 1915352 penjelasan-pvmbg-terkait-aktivitas-gunung-agung-51mNWirT4G.jpeg Gunung Agung (Foto: Ist)

KARANGASEM - Sejak pukul 10.30 hingga 15.30 Wita Gunung Agung terus mengeluarkan hembusan abu vulkanis. Bahkan, hembusan tersebut sampai 1.500 meter dari puncak Gunung Agung.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana mengimbau semua pihak agar tetap menjaga kesiapsiagaan terhadap aktivitas Gunung Agung karena saat ini aktivitasnya masih Level 3 (Siaga) dan masih berpotensi untuk erupsi.

"Saat ini, dari pemantauan kami teramati peningkatan intensitas aktivitas baik secara kegempaan maupun secara visual. Hembusan abu teramati menerus dengan ketinggian mencapai 1500 meter di atas puncak mengarah ke barat," katanya, Kamis (28/6/2018).

"Oleh karenanya, mohon agar tidak ada aktivitas masyarakat/wisatawan di dalam radius 4 km untuk mengantisipasi potensi bahaya erupsi. Masyarakat agar senantiasa menyiapkan masker untuk melindungi dari potensi bahaya abu," ujarnya.

 Gunung Agung

Dia menjelaskan, pascaerupsi 27 Juni 2018 pukul 22.21 Wita, secara visual teramati asap berwarna putih tebal dari pagi tadi sekira 200 meter di atas puncak dan ketinggian hembusan asap mengalami peningkatan hingga mencapai ketinggian 1500 meter di atas puncak sejak sekira pukul 12.30 Wita dengan disertai abu tipis.

Dia mengatakan, arah sebaran abu ke barat, hal ini dikonfirmasi oleh Tim Lapangan yang menemukan hujan abu tipis di sekitar Desa Puregai (7 km dari puncak).

"Tadi sekira pukul 15.30 Wita, aktivitas hembusan masih berlangsung dengan ketinggian relatif konstan di kisaran 1500 meter di atas puncak. VONA telah dikirimkan pada pukul 15.01 Wita," tuturnya.

 Gunung Agung

Dia menerangkan, secara seismik teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam 24 jam terakhir. Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa hembusan. Gempa-gempa ini kemudian menjadi satu membentuk tremor menerus sejak sekira pukul 12.30 Wita.

Ditambahkannya, secara deformasi teramati inflasi sejak 13 Mei 2018 hingga saat ini. Uplift terjadi sekira 5 mm. "Hal ini mengindikasikan adanya pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung. Hingga saat ini inflasi ini belum teramati mengalami penurunan,"paparnya.

Sementara secara geokimia, gas-gas SO2 terakhir kali terukur dengan fluks pada kisaran 200 ton per hari. "Hal ini mengindikasikan masih adanya kontribusi magmatik dari dalam tubuh Gunung Agung," ujarnya.

Dari satelit teramati Hotspot yang mengindikasikan adanya lava panas di permukaan kawah. "Lava ini dapat berupa lava lama yang dipanaskan ataupun lava baru yang dikeluarkan dari erupsi tadi malam," jelasnya.

Kesimpulannya, fenomena yang terjadi saat ini kemungkinan berupa aliran fluida ke permukaan berdasarkan pengamatan visual di mana kolom asap relatif berwarna putih dan ketinggian relatif konstan. Aliran fluida bisa berupa gas maupun aliran lava baru ke permukaan. Frekuensi dominan tremor belum berubah (konstan di sekitar 4.7 Hz) mengindikasikan laju aliran fluida ke permukaan relatif konstan.

"Jika frekuensi dominan tremor mengalami perubahan (misal jika menurun) maka kemungkinan bisa mengindikasikan terjadinya penyumbatan dan erupsi eksplosif bisa terjadi. Jika aktivitas hembusan ini terus berlangsung tanpa mengalami perubahan laju maka kemungkinan yang terjadi adalah pengisian lava baru ke permukaan dan/atau emisi gas magmatik, hal ini baru dapat dikonfirmasi nanti dengan melihat citra satelit thermal. Kondisi saat ini citra satelit termal terbaru belum dapat diakses," ungkapnya.

Dia menegaskan, PVMBG terus memonitor aktivitas Gunung Agung untuk mengevaluasi potensi bahayanya antarwaktu. "Jika terjadi perubahan signifikan maka status atau rekomendasi aktivitas Gunung Agung akan dievaluasi kembali," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini