Kecewa, Mantan Pendukung Aung San Suu Kyi Bentuk Partai Baru di Myanmar

Agregasi VOA, · Minggu 01 Juli 2018 02:12 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 30 18 1916168 kecewa-mantan-pendukung-aung-san-suu-kyi-bentuk-partai-baru-di-myanmar-pyOKvLh88e.jpg Ko Ko Gyi, Mantan Sekutu Aung San Suu Kyi dan Pemimpin Mahasiswa dalam Pergolakan Melawan Kekuasaan Militer 1988 (foto: VOA)

MYANMAR - Terdorong oleh rasa kecewaan atas kinerja Aung San Suu Kyi dalam pemerintahan, para aktivis kawakan di Myanmar meluncurkan partai baru. Sementara kaum muda mempertimbangkan organisasi-organisasi baru untuk mendatangkan perubahan dalam lingkungan yang masih didominasi oleh militer.

Namun, pandangan yang berbeda mengenai krisis Rohingya telah membuat frustrasi sekutu-sekutu penting. Para aktivis prodemokrasi Myanmar pernah bersatu bersama Aung San Suu Kyi dalam perjuangannya menentang kekuasaan militer, dan kelompok-kelompok etnis minoritas menaruh harapan pada kemampuannya untuk mewujudkan perdamaian di daerah-daerah yang menderita oleh puluhan tahun perang saudara.

Aung San Suu Kyi: Myanmar Tak Takut Kecaman Dunia Terkait Rohingya

Kemenangan besar partai yang dipimpin Suu Kyi, Liga Nasional bagi Demokrasi (NLD), dalam pemilu tahun 2015 menimbulkan optimisme di negara yang terpecah-belah itu.

Sejak itu, kinerja buruk pemerintahan NLD dalam kebebasan sipil – yang mempertahankan undang-undang yang membatasi kebebasan berbicara dan hak untuk memprotes – sikap menjauhnya terhadap masyarakat madani, dan pendekatannya yang sering tidak peka terhadap keluhan etnik minoritas telah menimbulkan kekecewaan para pendukung yang berpengaruh dan mulai mengubah keadaan politik di Myanmar.

Ko Ko Gyi, seorang mantan sekutu Aung San Suu Kyi dan pemimpin mahasiswa dalam pergolakan melawan kekuasan militer tahun 1988 yang membuka kesempatan bagi NLD untuk bangkit, dalam satu tahun ini telah mendirikan satu partai politik baru dengan harapan akan menarik para pendukung demokrasi yang tidak puas dengan NLD.

Pada waktu junta militer berkuasa di Myanmar, aktivis yang berusia 56 tahun itu meringkuk lebih dari 17 tahun dalam penjara karena keterlibatannya dalam demonstrasi untuk merayakan penganugerahan hadiah Nobel perdamaian bagi Aung San Suu Kyi pada tahun 1991.

Akan tetapi, walaupun ia ingin menjadi calon NLD dalam pemilu tahun 2015, partai tersebut tidak mau mencalonkannya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini