Simbol Tokoh Parpol Dinilai Tak Ngefek di Pilkada 2018

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Sabtu 30 Juni 2018 14:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 30 337 1916052 simbol-tokoh-parpol-dinilai-tak-ngefek-di-pilkada-2018-izGaK0GJvN.jpg Diskusi Populi Center dan Smart FM di Jakarta (Foto: Harits Tryan)

JAKARTA - Pilkada serentak di 171 daerah sudah selesai dilaksanakan. Beberapa lembaga survei pun mengeluarkan hasil hitung cepat (quick count) yang di mana hasilnya di beberapa daerah berbeda dengan perkiraan survei selama ini.

Direktur Pusat Studi Sosial Politik Indonesia Universitas Negeri Jakarta, Ubedillah Badrun mengatakan, adanya fenomena perbedaan hasil survei dengan hasil hitung cepat sementara seperti di Jawa Timur mencerminkan tokoh partai tidak menjadi faktor penunjang elektoral di salah pasangan Syaifullah Yusuf-Puti Guntur.

Kata Ubedillah, pasangan Gus Ipul-Puti yang dimotori oleh PDIP dianggap akan memenangkan Pilkada karena partai penguasa . Variabelnya latar belakang calon berasal dari incumbent dan juga cucu dari Bung Karno. Namun, pada hasil akhir hitung cepat sementara pasangan ini justru kalah dari Khofifah-Emil Dardak.

"Kalau asumsi tokoh berpengaruh aneh, berarti tokoh tidak menjadi faktor elektoral di Jawa Timur," ungkap Ubedillah dalam diskusi Populi Center dan Smart FM bertema 'membaca hasil pilkada' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6/2018).

Gus Ipul-Pui bersama Megawati, Said Aqil, Cak Imin

Ubedillah pun menyatakan, mesin politik PDIP tidak terlalu terlihat. Padahal, seharusnya mesin politik parpol dapat bergerak dengan baik untuk memenangkan pasangan yang diusungnya.

Sementara, untuk di wilayah Jawa Barat, Ubedillah menilai juga terjadi fenomena yang hampir sama dengan Jawa Timur. Di mana, terdapat faktor tokoh tidak terlalu berpengaruh seperti mesin politik.

"Kalau asumsi faktor tokoh tidak terlalu elektoral berpengaruh signifikan. Karena saat di survei dengan saat pilkada hasilnya ada perubahan dan ini adalah hasil mesin politik," terangnya.

Begitu pun dengan Jawa Tengah. Ia menilai hasil yang diraih oleh Sudirman Said dalam hasil hitung cepat merupakan bentuk mesin politik dapat bekerja dengan baik. Tokoh partai tidak terlalu memberikan elektoral suara terhadap pasangan yang telah diusung.

"Jawa Tengah juga menggambarkan yang sama. Survei Sudirman Said yang tidak signifikan saat survei tapi hasilnya naiknya luar biasa," tandasnya.

Tahapan Pilkada

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini