nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjanjian Damai Disepakati, Sudan Selatan Akan Punya Empat Wakil Presiden

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 09 Juli 2018 17:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 09 18 1919978 perjanjian-damai-disepakati-sudan-selatan-akan-punya-empat-wakil-presiden-ZHV95kZO0j.jpg Pimpinan pemberontak Sudan Selatan, Riek Machar kembali ditempatkan sebagai wakil presiden sebagai bagian dari kesepakatan pembagian kekuasaan yang disepakati di Entebbe, Uganda. (Foto: Reuters)

ENTEBBE – Pihak-pihak yang bertikai di Sudan Selatan akhirnya menyepakati perjanjian damai yang diharapkan dapat mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung selama lima tahun di negara baru Afrika itu. Dalam kesepakatan tersebut, Pimpinan Pemberontak Riek Machar akan kembali dikembalikan ke jabatannya sebagai wakil presiden Sudan Selatan.

Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan yang digelar di Entebbe, Uganda dengan Presiden Uganda, Yoweri Museveni bertindak sebagai penengah. Turut hadir dalam perundingan itu adalah Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir dan Presiden Sudan, Omar al Bashir.

BACA JUGA: Mundur, Menteri Sudan Selatan Nyatakan Bergabung dengan Pemberontak

"Setelah pertemuan 10 jam, semua pihak sepakat ... akan ada empat wakil presiden dan Dr Riek Machar akan dikembalikan pada jabatannya sebagai wakil presiden pertama," demikian pernyataan hasil perundingan yang dilansir Reuters, Senin (9/7/2018).

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa meski kedua belah pihak telah sepakat atas usulan tersebut, masih akan ada konsultasi lebih lanjut untuk mencapai keputusan final.

Sudan Selatan telah dilanda perang sipil sejak 2013, ketika perselisihan politik antara Kiir dan Machar meledak menjadi konfrontasi militer. Konflik yang melibatkan kelompok etnis Dinka yang mendukung Kiir dan etnis Nuer pendukung Machar itu telah menelan puluhan ribu korban jiwa, serta merusak produksi minyak yang menjadi andalan negara itu.

BACA JUGA: Sudan dan Sudan Selatan Sepakat untuk Akhiri Ketegangan

Kesepakatan tentang posisi Machar berpotensi menjadi sebuah terobosan dalam upaya baru yang dimediasi oleh para pemimpin regional guna menemukan solusi dan perjanjian damai untuk mengakhiri perang.

Kesepakatan serupa pada 2015 gagal setelah perbedaan pendapat antara Machar dan Kiir yang terjadi pada tahuh berikutnya dengan cepat berkembang menjadi sebuah konflik baru dan kembali menyulut pertempuran antara kedua kubu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini