nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Erdogan Tunjuk Menantunya Menjadi Menteri Keuangan Turki

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 10 Juli 2018 09:52 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 10 18 1920245 erdogan-tunjuk-menantunya-menjadi-menteri-keuangan-turki-ewBxQcVGDB.jpg Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Reuters)

ANKARA - Sesaat setelah resmi dilantik untuk meneruskan jabatannya sebagai presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menunjuk menantunya menjadi menteri keuangan yang baru.

Penunjukan Berat Albayrak, yang sebelumnya menjabat menteri energi pada 2015, mendapat tanggapan dari pasar keuangan.

Lira, mata uang Turki, merosot nilainya sebanyak 2 persen setelah Erdogan mengumumkan penunjukan Albayrak.

BACA JUGA: Makna Kemenangan Erdogan di Pilpres Turki 2018

Dalam pidatonya seusai dilantik di parlemen pada Senin 9 Juli, Erdogan mengatakan kepada para tamu di istana kepresidenan di Ankara bahwa Turki "menciptakan awal yang baru".

"Kami meninggalkan sistem yang di masa lalu membuat negara kami harus membayar harga mahal dalam wujud kekacauan politik dan ekonomi," ujarnya.

Kemenangan Erdogan dalam pemilu bulan lalu bukan sekedar melanjutkan jabatan presiden selama lima tahun, tapi juga menandai transisi Turki dari sistem parlementer ke sistem presidensiil.

Mulai bulan ini Erdogan berwenang menunjuk menteri dan wakil presiden. Dia juga berhak campur tangan dalam sistem hukum.

Selain menunjuk menantunya untuk menduduki posisi menteri keuangan, Erdogan memilih panglima militer Jenderal Hulusi Akar sebagai menteri pertahanan.

Adapun Mevlut Cavusoglu dipertahankan sebagai menteri luar negeri.

Kalangan oposisi dan pengkritik Erdogan menilai kewenangan baru yang dimiliki pria tersebut akan menghancurkan demokrasi di Turki.

Pada Minggu, pemerintah Turki telah memecat lebih dari 18.000 anggota tentara, polisi, akademisi, serta pegawai negeri.

BACA JUGA: Diduga Dukung Kelompok Teroris, Turki Pecat Lebih dari 18.000 Pegawai Negeri

Keterangan resmi pemerintah Turki menyebutkan 18.632 orang telah dipecat, termasuk 8.998 anggota polisi serta 6.152 personil militer, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Dan menurut kantor berita Reuters, ada 199 akademisi yang dipecat dari berbagai universitas di seluruh negara itu.

Langkah pembersihan ini merupakan yang terbaru setelah upaya kudeta militer yang gagal dua tahun silam.

Erdogan—sang pencipta kutub

Selama 95 tahun, Turki merupakan republik parlementer dan Majelis Agung Nasional merupakan pusat kekuatan politiknya.

Tidak lagi.

Sejak Senin, Turki berubah menjadi republik presidensiil di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan.

Berkat kemenangannya dalam pemilu, Erdogan kini menjadi kepala eksekutif yang mengendalikan militer, badan intelijen, mampu mengeluarkan dekrit, serta memilih hakim-hakim senior.

Bagi para pendukungnya, sistem politik baru ini lebih kuat. Sedangkan bagi pengritiknya, kekuasaan Erdogan terlampau besar dan menyebabkan demokrasi di Turki mati.

Erdogan kini merupakan pemimpin terkuat Turki sejak era Mustafa Kemal Ataturk, bapak pendiri negara Turki yang sekuler dan menghendaki Turki menjadi bagian dari kekuatan Barat.

Akan tetapi, berbeda dengan Ataturk, Presiden Erdogan menempatkan agama pada jantung Turki dan justru menjauhkan Turki dari Barat.

Koresponden BBC di Turki, Mark Lowen melaporkan, hanya segelintir pemimpin Barat yang menghadiri pelantikannya—seperti dari Hungaria dan Bulgaria. Sebagian besar dari Afrika dan Timur Tengah, yang menjadi pertanda arah politik luar negerinya.

Erdogan adalah pencipta kutub dan pandangan publik terhadap dirinya terpecah belah. Bagi sebagian kalangan, pelantikan dirinya adalah perlambang Turki yang baru. Sementara lainnya menilai republik yang didirikan Ataturk telah dilucuti.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini