Dosen ITB Kembangkan Pemanis Alami Rendah Kalori dari Daun Stevia

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 10 Juli 2018 19:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 10 65 1920564 dosen-itb-kembangkan-pemanis-alami-rendah-kalori-dari-daun-stevia-1r1DdLyDil.jpg Kampus ITB (Foto:Okezone)

JAKARTA – Tim peneliti dari staf dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) mengembangkan pemanis alami dari daun Stevia. Tim peneliti terdiri dari Rahmana Emran Kartasasmita, Elfahmi, Muhammad Insanu, dan As’ari Nawawi. Lengkapnya, mereka melakukan penelitian dengan topik “Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia.”

Lebih lanjut, para dosen tersebut memilih daun dan herba tanaman Stevia, karena mengandung senyawa yang memiliki rasa manis glikosida steviol atau GS, dengan kadar cukup tinggi. Kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula, sehingga GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herba tanaman Stevia ini banyak digunakan sebagai pemanis alami pensubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah. GS juga tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi. Oleh karena itu, pemanis alami ini sesuai untuk digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori.

Pertemuan Menristekdikti dengan Forum Guru Besar ITB Bahas Kebijakan Teknologi Nasional

GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC). Ia merupakan organisasi international di bawah Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) yang mengeluarkan berbagai standard dalam bidang pangan. Namun di Indonesia, pemanis alami tersebut masih sepenuhnya diimpor.

Salah satu peneliti, Emran berharap GS bisa diproduksi dari Stevia yang ditanam ditanam di Indonesia. Serta menguntungkan, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan.

“Kami sebagai tim peneliti menginginkan pemanis alami GS dapat diproduksi di Indonesia sehingga tidak perlu import, mengingat tanaman stevia sebagai bahan bakunya cocok ditanam di Indonesia khususnya di daerah Ciwidey,” kata Emran, dalam keterangan resmi.

Pertemuan Menristekdikti dengan Forum Guru Besar ITB Bahas Kebijakan Teknologi Nasional

Ia menambahkan, setiap hektar lahan bisa ditanami sekitar 50 ribu bibit dengan kapasitas produksi 12 ton daun basah pertahun dengan 12 kali panen atau setara dengan 1,2 ton daun kering.

Berdasarkan hasil analisis, diketahui kandungan total GS dari dalam daun stevia kering minimum sekitar 10%, sehingga 1,2 ton daun kering akan menghasilakan 120 kg pemanis stevia dalam 1 tahun. Saat ini, estimasi kebutuhan tahunan stevia di Indonesia sekitar 350 ton stevia per tahun. Bila 10% dari kebutuhan tersebut, atau 35 ton pertahun akan diproduksi di Indonesia, maka diperlukan lahan tanaman stevia seluas (35.000,00 kg/tahun / 120 kg/tahun/hektar) atau 292 hektar.

(feb)

Sementara saat ini hanya beberapa hektar saja lahan yang ditanami stevia di daerah Ciwidey. Namun demikian, pemda setempat akan memberikan dukungan untuk menjadikan stevia sebagai unggulan daerah dan akan memfasilitasi penyediaan lahan, bila stevia akan ditanam pada skala besar untuk mendukung industri yang memproduksi GS sebagai pemanis alami.

“Sepanjang yang saya ketahui, di daerah Ciwidey, jika ingin menanam stevia dalam skala komersial banyak lahan-lahan yang bisa disewa. Saat ini di sana sudah ada tanaman Stevia akan tetapi karena belum ada industri yang membutuhkan tanaman stevia dalam kuantitas besar, petani belum tertarik untuk menanam pada lahan yang luas. Daun stevia yang dihasilkan dari lahan yang ada saat ini, baru dikeringkan dan dijual sebagai daun stevia kering oleh petani” ucap Emran.

Menteri PPN Bambang Brodjonegoro Terima Penghargaan dari ITB

Proses Ekstraksi

Stevia termasuk ke dalam family asteracaeae (compositae). Tanaman ini berbentuk perdu dengan tinggi 60-90 cm, bercabang banyak, berdaun tebal hijau dan berbentuk lonjong memanjang, batang kecil dan berbulu. Proses ekstraksi daun stevia tidaklah sulit. Daun hasil panen yang telah dipetik petani kemudian disortir dan dikeringkan terlebih dahulu. Setelah kering lalu dirontokkan daunnya dari tangkai. Lalu dilanjutkan proses penghancuran menggunakan mesin agar lebih halus berbentuk bubuk. Baru kemudian dilakukan proses ekstraksi, dengan berbagai teknik, ada yang menggunakan air terlebih dahulu atau pelarut lain yang diizinkan untuk pengolahan pangan. Selanjutnya yaitu proses pemurnian dan pengkristalan menjadi serbuk GS yang berwarna putih.

“Semua hasil penelitian ini sudah dilaporkan dan diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebagai pemberi dana. Untuk tindak lanjut produksi stevia pada skala komersial, Kementrian Kesehatan akan memfasilitasi bila ada industri yang berminat. Oleh sebab itu kami berharap ada industri yang berminat dan bisa menindaklanjuti hasil penelitian ini,” terangnya

(feb)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini