nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gagal Masuk PTN dan Tertekan Orangtua, Calon Mahasiswa Perlu Rencana Cadangan

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 17 Juli 2018 06:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 16 65 1923033 gagal-masuk-ptn-dan-tertekan-orangtua-calon-mahasiswa-perlu-rencana-cadangan-5InxMDrPfF.jpeg Tika Bisono (Foto: Okezone)

JAKARTA- Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit menjadi pilihan ribuan pelajar SMA atau calon mahasiswa. Namun, sayang dari ketatnya persaingan dan proses seleksi membuat beberapa dari mereka tersingkir atau gagal.

Menurut psikologi anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, berkaca beberapa kasus yang dia tangani, banyak dari mereka yang lantas bingung harus bagaimana. Ada yang menunggu tahun depan atau kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Dia mengungkapkan, banyak dari para calon mahasiswa yang bingung lantaran tidak memiliki rencana cadangan, sehingga merasa tersesat saat mengalami kegagalan.

Lebih lanjut, psikologi senior yang juga berprofesi sebagai dosen, Tika Bisono menambahkan dalam kasus yang ditemuinya pada tahun sebelumnya, beberapa dari mereka yang tidak melakukan apa-apa atau mencoba kuliah di kampus lain. Kemudian, Tika menambahkan, ada murid dia yang merasa terganggu karena tidak mendapatkan kampus negeri. Terlebih, sang murid mendapatkan tekanan dari orangtuanya.

“Ada salah satu mahasiswa saya itu yang agak terganggu. Ini karena orangtua dia itu mengharuskannya kuliah di kampus negeri. Tapi dia ada di kampus swasta,” tutur perempuan 57 tahun tersebut kepada Okezone, Selasa (17/7/2018).

Stress

Baca Juga: Tika Bisono: Penanaman Pilihan Kampus Seharusnya Sejak 1 SMA

Dia menambahkan, “Jadi, dia (murid Tika) terganggunya karena unsur ekspetasi dari orangtuanya. Sudah saya aja bicara dia, indoktrinasi dari orangtuanya itu sudah mengganggu dia.”

Dampaknya, lanjut dia, dia menjadi disorientasi atau kehilangan arah, “Di kelas dia kerja kelompok, ya zero komitmen. Jadi, mengerjakan tugas itu sekena-kenanya. Sampai teman-teman kelompoknya dibuat marah. Kelihatannya memang seperti itu, padahal memang ada hal lain dalam dirinya. Setelah teman-temannya tahu cerita di belakang itu, mereka baru membantu dia. Tapi memang kembali ke orangnya, mau dibantui atau tidak.”

Tika sedikit menyanyangkan hal tersebut. Karena, menurutnya hal itu cukup membuang waktu. “Di mana pun dia berada seharusnya harus melindungi masa depannya. Karena masa depan itu satu-satunya yang dia punya,” tutur dia.

Lulus

 Baca Juga: Ini yang Harus Dilakukan Mahasiswa Baru Hadapi Masa Transisi dari SMA

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini