Nasib Ribuan Anak Sudan Selatan Dipaksa Putus Sekolah Akibat Perang

Agregasi Antara, · Selasa 17 Juli 2018 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 17 65 1923428 nasib-ribuan-anak-sudan-selatan-dipaksa-putus-sekolah-akibat-perang-pvCqBdKAbt.jpg Anak perempuan di Juba, Sudan Selatan (Foto: Shutterstock)

JUBA – Ribuan anak Sudan Selatan telah melanjutkan studi mereka dalam Program Pendidikan Darurat Sudan Selatan (EEP). Program tersebut didukung oleh Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNICEF, sejak 2014.

Mereka sebelumnya dipaksa putus sekolah, karena adanya konflik perang saudara Sudan Selatan, pada 2013.

Konflik tersebut mengakibatkan kerusakan dan penjarahan gedung sekolah selama lebih dari empat tahun. Hal ini membuat jutaan orang, meninggalkan rumah mereka, sehingga sebagian anak terdampak secara psikologis.

Menteri Pendidikan Umum Sudan Selatan Deng Deng Hoc Yai mengatakan meskipun 464.844 anak mendaftarkan diri kembali di sekolah dasar. Sudan Selatan perlu meningkatkan pendaftaran melalui penambahan pusat-belajar, sementara yang didukung oleh UNICEF di bawah Dinas Pendidikan Darurat Dasar (IEES), proyek tiga-tahun di bawah EEP.

"Kita perlu berbuat lebih banyak, sebab ada laporan yang diproduksi Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan (UNESCO) buat Kementerian (Pendidikan) bahwa ada dua juta anak yang putus sekolah dan jumlah ini tampaknya akan bertambah jadi 2,4 juta anak jika kita tak berbuat apa-apa," kata Yai, Selasa (17/7/2018).

Yai menambahkan mereka perlu menyediakan ruang-belajar sementara untuk melayani lebih banyak anak usia sekolah di daerah pedesaan, yang tersedia sedikit sekolah.

Anak di Sudan

Baca Juga: Perang Saudara Sudan Selatan Libatkan 9.000 Bocah

Dia mengungkapkan banyak masyarakat di Sudan Selatan tidak sepenuhnya menghargai pentingnya nilai pendidikan. Hal ini akibat dari kenyataan bahwa banyak orang Sudan Selatan masih konservatif dan sebagian besar masyarakat memiliki sedikit orang yang terpelajar.

"Kita belajar terlambat tapi kita perlu melipat-gandakan upaya kita. Kita perlu melompati negara lain, kita tak perlu mengikuti langkah awal mereka tapi kita mesti memulai dari tempat mereka sekarang dan bergerak maju. Itu berarti menyediakan pendidikan yang berkualitas buat setiap orang," kata dia.

Lebih lanjut, terkait proyek IEES, dirancang untuk meningkatkan daya serap kebanyakan anak lelaki dan perempuan yang rentan di sekolah dengan menyediakan kesempatan belajar yang berkelanjutan dan bertujuan meningkatkan hasil kegiatan belajar-mengajar, tingkat perlindungan, keuletan dan pemulihan sebanyak 300.000 anak lekai dan perempuan lagi yang hidup di tengah konflik rusuh.

Penjabat Direktur Pendidikan Sudan Selatan di Biro Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat untuk Afrika, Wendy Wheaton mengatakan sejak perang meletus, proyek tersebut telah menjadi saluran kehidupan untuk 165.000 anak lelaki dan perempuan yang bertekad untuk melanjutkan pelajaran.

Dia menambahkan, Sudan Selatan telah memperoleh banyak manfaat dari program pendidikan darurat sejak program tersebut diterima pada Mei 2014, tapi masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan standard pendidikan sebab Sudan Selatan memiliki angka tertinggi anak putus sekolah di dunia.

Sementara itu, Wakil Menteri di Kementerian Pendidikan, Michael Lopuke Lotyam, mengatakan program tersebut telah meningkatkan pendaftaran sekolah dari 900.000 anak pada 2014 jadi setidaknya 1,6 juta anak yang saat ini mendaftar sekolah.

Anak di Sudan

Baca Juga: Astaga! Ratusan Ribu Nyawa Balita di Sudan Selatan Terancam Akibat Malnutrisi

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini