nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kaji Penurunan Tanah Kota Semarang, Sabri Raih Gelar Doktor

Rafida Ulfa, Jurnalis · Minggu 29 Juli 2018 15:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 29 65 1928923 kaji-penurunan-tanah-kota-semarang-sabri-raih-gelar-doktor-oHljbr8MEB.jpg Foto: L. M. Sabri (Dok. Humas UGM)

YOGYAKARTA - Dosen Teknik Geodesi Universitas Diponegoro Undip) L.M. Sabri menyatakan, kerusakan infrastruktur yang terjadi di kota-kota Indonesia, salah satunya Semarang, disebabkan oleh land subsidence atau penurunan tanah. Hal tersebut berdampak pada perubahan datum vertikal berbasis sipat datar yang digunakan sebagai referensi pengukuran ketinggian untuk perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan infrastruktur.

Hal tersebut berdasarkan, disertasi Sabri yang berjudul Sistem Referensi Vertikal di Wilayah Land Subsidence (Studi Kasus: Kota Semarang) saat ujian terbuka program doktor di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Perubahan elevasi datum vertikal berbasis sipat datar mengakibatkan degradasi akurasi dan efisiensi pengukuran,” ujarnya seperti dikutip pada laman resmi UGM, Minggu (29/7/2018).

Proyek Revitalisasi Kota Lama Semarang Ditargetkan Kelar Tahun Ini

Dia mengatakan, akurasi dan efisiensi pengukuran ketinggian fisik di wilayah yang mengalami penurunan tanah bisa ditingkatkan dengan mengombinasikan pengukuran Global Navigation Satellite System (GNSS) dengan datum vertikal berbasis genoid.

Adapun GNSS merupakan teknologi yang digunakan untuk menentukan posisi atau lokasi dalam bentuk koordinat absolut lintang, bujur, dan ketinggian.

"Rendahnya presisi dan sebaran data gaya berat, koordinat geodetik, dan ketinggian fisik mengakibatkan presisi geoid gravikmetrik di Indonesia saat ini masih dalam level desimeter," katanya.

Persoalan lain, terkait dengan akurasi pengukuran ketinggian fisik dengan penerapan sistem tinggi ortometrik di Indonesia yang masih tanpa dukungan data densitas batuan yang akurat. Sementara di negara-negara Eropa, ketinggian fisik yang akurat diperoleh dengan menerapkan sistem tinggi normal yang hingga kini belum populer diterapkan di Indonesia.

Proyek Revitalisasi Kota Lama Semarang Ditargetkan Kelar Tahun Ini

Hal itu, mendorong Sabri melakukan penelitian guna mendapatkan peta geoid gravimetrik presisi di wilayah land subsidenceI. Disamping itu, untuk memperoleh sistem tinggi dan datum vertikal berbasis geoid gravimetrik yang presisi di wilayah itu.

Disamping itu, untuk memperoleh sistem tinggi dan datum vertikal berbasis geoid gravimetrik yang presisi di wilayah itu.

Hasil dari penelitian diketahui peta geoid gravimetrik yang telah berhimpit dengan Jaringan Kontrol Vertikal Nasional dapat digunakan untuk mengonversi ketinggian dari pengukuran GNSS menjadi ketinggian normal secara cepat dan akurat. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini