nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pantau Gempa Susulan di Lombok, ITB Pasang 13 Seismometer

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Rabu 08 Agustus 2018 18:40 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 08 65 1933681 pantau-gempa-susulan-di-lombok-itb-pasang-13-seismometer-9dnrPpjCD9.jpg Foto: itb.ac.id

JAKARTA - Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global Institut Teknologi Bandung (ITB) membentuk tim untuk melakukan pemasangan seismometer di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pemasangan seismometer tersebut bertujuan untuk memantau gempa susulan setelah gempa magnitudo 6.4 SR yang terjadi di Lombok bagian utara.

"Sampai dengan kemaren, Selasa (7/8/2018), sudah 13 Seismometer yang terpasang," ujar Ketua Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global Institut Teknologi Bandung (ITB) Nanang T Puspito seperti dikutip Okezone dalam situs ITB, Rabu (8/8/2018).

 Melihat Lebih Dekat Rumah-Rumah yang Rusak Akibat Gempa 7 SR di Lombok

Tim KK Geofisika Global dan selaku dosen dikoordinir langsung Andri Dian Nugraha (Dosen) ini beranggotakan DZulfakriza sebagai koordinator lapangan serta asisten Yayan M. Husni, MT tiba lebih dulu di Lombok pada Rabu (1/8/2018).

Sedangkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG ) Dr. Muzli dan Mahasiswa S3 Teknik Geofisika ITB, Pepen Supendi, MT sudah tiba di Lombok sejak Minggu (5/9/2018).

"Tim KK Geofisika Global jadi masih berada di Lombok hingga kejadian Gempa 5 Agustus 2018, " ujar Nanang.

Sebagaimana dilaporkan oleh BMKG bahwa Gempa yang berkekuatan magnitudo 7.0 SR mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (5/8/2018). Gempa dirasakan sekitar pukul 18:46:35 WIB. Titik gempa berada di 8.37 Lintang Selatan - 116.48 Bujur Timur tepatnya 18 kilometer barat laut Lombok Timur, NTB dengan kedalaman 15 kilometer.

 Melihat Lebih Dekat Rumah-Rumah yang Rusak Akibat Gempa 7 SR di Lombok

Sebelum pemasangan seismometer yang berlokasi di halaman belakang Kantor Desa, Puskesmas, Kantor Kecamata dan Kantor BPBD Lombok Timur, tim KK melakukan koordinasi dengan aparat pemerintah kecamatan ataupun desa. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kemudahan perizinan pada saat pemasangan dan jaminan supaya tidak ada gangguan pada saat perekaman.

"Monitoring gempa susulan gempa Lombok dilakukan selama satu bulan. Harapannya, selama satu bulan, tujuh seismometer yang ditempatkan dapat merekam gempa-gempa susulan dengan baik dan tanpa gangguan," ujar Nanang.

Rekaman gempa susulan termasuk gempa pada Minggu (5/8/2018) yang diperkirakan sebagai gempa utama dapat menjadi pemahaman baru terkait sumber dan mekanisme kejadian Gempa Lombok 2018.

Selain melakukan pemasangan seismometer, TimKK juga melakukan koordinasi dengan BMKG Mataram, BPBD Lombok Utara dan Pos Pengamatan Gunung Rinjani. Beberapa dosen dari KK Geodesi juga telah berada di Pos Rinjani untuk melakukan mitigasi dan observasi bencana.

Pembentukan Tim Satgas (Satuan Tugas) ITB

Dalam jangka pendek tim satgas ITB ini akan mengirimkan tim untuk melakukan assessment kelayakan bangunan publik, membantu dalam pengiriman bantuan pokok makanan, obat-obatan, selimut dan lain-lain yang bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IA-ITB).

 

Selanjutnya tim KK akan melaksanakan program penyediaan fasilitas air minum, serta mempelajari potensi bencana ke depan dan menganalisa gempa susulan dan longsoran.

"Tim Satgas ITB untuk bencana Lombok saat ini sedang sudah dibentuk dengan tugas menyusun rencana dan aksi bantuan untuk bencana alam Lombok," ujar Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi ITB Miming Miharja,.

Lebih lanjut Miming mengatakan, “Untuk jangka menengah (tahap rehabilitasi-rekonstruksi), ITB akan memperkenalkan teknologi bangunan dengan struktur bambu yang dikembangkan oleh KK Teknologi Bangunan Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Selanjutnya akan dicoba penerapan Teknologi Open BTS yang dikembangkan oleh Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI).”

Institut Teknologi Bandung akan terus berupaya untuk turut membantu dan bekerjasama dalam penanganan keadaan darurat, jangka menengah dan jangka panjang sesuai dengan kapasitasnya. Untuk keseluruhan program bantuan, satgas ITB akan bekerjasama dengan LPPM Universitas Mataram dan pihak-pihak lain yang terkait.

Rektor dan segenap keluarga besar ITB menyatakan turut berduka cita yang mendalam atas terjadinya gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan mendoakan kebaikan bagi para korban.

"Pimpinan dan Keluarga Besar Institut Teknologi Bandung mendoakan dan turut berupaya agar korban bencana gempa Lombok dapat segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Semoga kondisi di wilayah bencana segera pulih seperti sedia kala," harap Miming.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini