nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harteknas 2018 Resmi Dibuka, Menristekdikti Soroti Pangan dan Energi

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 09 Agustus 2018 17:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 09 65 1934208 harteknas-2018-resmi-dibuka-menristekdikti-soroti-pangan-dan-energi-fbrwAKZPrh.jpeg Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2018 Resmi Dibuka (Foto: Taufik)

PEKANBARU - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir resmi membuka kegiatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-23 di Pekanbaru, Riau.

Hakteknas 2018 dibuka dengan pemukulan gong. Adapun tema kali ini Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi, dengan sub tema Sektor Pangan dan Energi di Era Revolusi Industri 4.0.

Pembukaan Harteknas dihadiri juga Presiden RI Ketiga BJ Habibie, Gubernur Riau Arsyadjulian Rachman, peneliti dan para rektor universitas seluruh Indonesia.

Menteri Mohamad Nasir menyatakan, mengapa topik pangan dan energi diambil di provinsi Riau, karena masalah pangan harus ditingkatkan kualitasnya. Di mana selama ini kebutuhan pangan di provinsi Riau sangat tinggi sementara itu produksi di dalamnya masih sangat kurang.

"Oleh karena itu kita dorong. Di sini juga ada sagu maka kualitas dan jumlahnya harus kita tingkatkan, di mana sagu juga gulitinnya adalah zero atau kualitasnya sangat bagus untuk kesehatan," ujar Nasir kepada wartawan di Pekanbaru, Kamis (9/8/2018).

Namun, lanjut dia, masyarakat Indonesia masih menganggap memakan sagu adalah orang yang ekonomi rendah. Padahal dalam kesehatan jauh lebih baik. Dan masalah pangan di provinsi Riau ini juga harus ditingkatkan jumlahnya kuantitasnya. Di mana di daerah Kampar Riau, ada kelapa sawit yang begitu besar.

"Dan limbah kelapa sawit pun begitu besar, namun belum termanfaatkan dengan baik. Maka itu, dalam hal ini bisa dihasilkan suatu energi, kita harus kembangkan juga," tuturnya.

Dia menceritakan, petani menggunakan traktor berisi bahan bakar BBM solar dan bensin yang nilai operasinya tinggi apalagi jika air yang digunakan itu air tanah. Dan juga menggunakan diesel yang nyala satu hari bisa 10 jam minimal sampai 20 jam satu hari satu malam.

"Nah kalau solar yang digunakan sangat tinggi maka akan sangat mahal. Bagaimana kita pindah menjadi gas, konverter kit kita dorong. Maka ini supaya efisiensi didapatkan oleh para petani, nilai tambahnya petani mendapatkan nilai yang lebih tinggi, ini harapannya," pungkasnya.

(feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini