nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos Bukalapak hingga Traveloka Bagi-Bagi Ilmu ke Maba ITB

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Jum'at 10 Agustus 2018 18:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 10 65 1934853 bos-bukalapak-hingga-traveloka-bagi-bagi-ilmu-ke-maba-itb-2deiMNMt4f.jpg Founder Bukalapak Achmad Zaky (Foto: Okezone)

JAKARTA – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan seminar dan talkshow kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Tahap Persiapan Bersama (LTPB) untuk mahasiswa baru program sarjana ITB tahun akademik 2018/2019. Acara tersebut dihadiri oleh tiga pendiri start-up di Indonesia, Founder Bukalapak Achmad Zaky, CTO & Co-Founder Traveloka Derianto Kusuma dan President & Co-Founder of PT Abyor International Hari Tjahjono.

Acara tersebut bertempat di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Jalan Tamansari, Kota Bandung. Ketiga pengusaha yang tengah naik daun namanya itu berbagi pengalaman dan motivasi kepada 4.105 mahasiswa baru agar selalu berani berinovasi dan bermimpi untuk sukses di masa depan.

Hari Tjahjono yang juga merupakan alumni Teknik Mesin ITB angkatan 1984 menceritakan pengalamaannya dalam membangun PT Abyor International yang bergerak dalam penyediaan konsultasi TI (Teknologi Informasi). Perusahannya itu dirintis ketika dirinya berusia 44 tahun. Walaupun sudah tidak di usia muda, ia menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi pengusaha.

“Menjadi pengusaha, berarti kita telah membantu pemerintah membuka lapangan pekerjaan,” ungkap Hari Tjahjono, seperti dilansir pada web ITB, Jumat (10/8/2018).

Sebagai soerang pengusaha, banyak rintangan yang harus dihadapi. Apalagi untuk perusahaan baru yang mesti mendapatkan kepercayaan kuat dari pelanggan pertamanya.

Di saat itulah karakter, kreativitas, dan jaringan begitu penting diaplikasikan. Hari menjelaskan, ada dua cara untuk mengimplementasikan hal tersebut. Pertama adalah go-branding dan kedua adalah bekerja keras.

“Menjadi entrepreneur itu berbeda dengan karyawan. Di dunia entrepreneurship, kita hanya bisa mendapatkan return dari apa yang kita lakukan jika apa yang kita lakukan tersebut dibeli oleh pelanggan,” katanya.

Hari pun berpesan kepada mahasiswa baru, untuk aktif berorganisasi, karena pengalaman berorganisasi sangatlah berguna.

(feb)

Sementara itu, CTO & Co-Founder Traveloka Derianto Kusuma menjelaskan, fresh graduate yang dibutuhkan di perusahaan adalah yang memiliki nilai, karakter, dan etika yang lebih. Karena di dunia industri biasanya tidak sulit dalam permasalahan teknis, tapi yang sulit adalah untuk menemukan apa inti permasalahan dan solusinya.

Derianto Kusuma telah merintis karir sebagai pengusaha sejak usia muda. Pria lulusan Stanford University, Amerika Serikat itu juga pemilik dari start-up unicorn atau start-up yang memiliki valuasi senilai lebih dari USD1 miliar. Riset pasar, katanya sangat penting dalam memulai start-up, seperti halnya pendirian Traveloka yang telah melalui berbagai riset bersama rekannya.

Dia bercerita, perjalanan untuk membangun start-up tidaklah mudah. Karena perjalanan yang berat itulah, bagi Deri tidak perlu menunggu pengalaman untuk memulai menjadi pengusaha, karena pengalaman tersebut bisa dicari nantinya seiring berjalannya waktu.

Pengalaman berbeda diceritakan Founder Bukalapak, Achmad Zaky. Alumni Teknik Informatika ITB 2004 ini menjelaskan perihal kesempatan emas yang akan didapatkan Indonesia dengan adanya bonus demografi. Menurutnya, generasi muda saat ini harus cerdik dalam menilai permasalahan yang ada, harus bisa mengolah permasalahan menjadi suatu inovasi. Permasalahan, baginya tidak lain adalah suatu peluang.

“Indonesia berpotensi menjadi gudang inovasi dunia pada tahun 2045. Diprediksi ditahun tersebut Indonesia salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk produktif tertinggi di dunia. Kalau kita lihat masalah hanyalah masalah, hancur kita. Namun jika bisa melihatnya sebagai cara untuk berinovasi, menurut saya kedepan di Indonesia ini akan banyak bukalapak-bukalapak lainnya,” ucapnya.

Di akhir, Zaky berpesan kepada mahasiswa baru ITB agar berani untuk mencoba, berani gagal, dan berani belajar. Manfaatkan waktu yang ada sebab inovator itu datang dari usia muda. Karena di usia muda, pemikiran yang dihasilkan baru dan lebih lincah dari generasi usia tua.

“Ciptakan sejarah, hidup cuma sekali,” pungkasnya.

(feb)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini