nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lombok Kembali Dilanda Gempa, Volkanolog ITB Berharap Tak Berpengaruh Pada Aktivitas Gunung Rinjani

Taufik Fajar, Jurnalis · Selasa 21 Agustus 2018 07:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 20 65 1939183 lombok-kembali-dilanda-gempa-volkanolog-itb-berharap-tak-berpengaruh-pada-aktivitas-gunung-rinjani-4INqdQO4XP.jpg gempa lombok, foto okezone

JAKARTA- Lima gempa signifikan mengguncang tanah Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam waktu kurang dari satu bulan. Seperti gempa berkekuatan 6,4 skala Richter di kedalaman 13 km menjadi gempa pembuka. Lombok diguncang kembali dengan kekuatan 7 skala Richter di kedalaman 32 km.

Terus gempa berkekuatan 5,9 SR pada kedalaman 16 km dan terakhir yang baru, gempa dengan kekuatan 6,3 SR di kedalaman 14 km, serta dengan kekuatan 6,9 di kedalaman 10 km.

Terkait hal itu, Volkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman, mengharapkan, kejadian lima kali gempa beruntun yang terjadi tersebut tidak mempengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Rinjani. Mengingat pusat gempa tersebut sangat dekat dengan Gunung Rinjani.

Dampak Gempa Susulan 6,9 SR di Lombok: 10 Orang Meninggal Dunia

"Ada tiga gunung api aktif di sekitar Lombok, yaitu Gunung Agung, Tambora dan Rinjani. Dua nama terakhir saat ini berada dalam kondisi stabil, artinya kecil kemungkinan gempa di Lombok akan memberikan efek dan membuat kedua gunung api tersebut erupsi," kata Mirzam, Selasa (20/8/2018).

 Namun untuk gunung Rinjani, lanjut dia, jika melihat sejarah letusan setidaknya sejak awal tahun 1900-an hingga sekarang letusan pertama terjadi pada 1915 kemudian disusul berurutan 1944, 1966 dan 1994, yang kemudian juga disusul oleh letusan-letusan kecil tahun 2004 dan 2009. 

Operasi Pasar Bangkitkan Perekonomian Lombok Pascagempa

"Ada pola letusan yang menarik sejak 1915 hingga 1994, rata-rata intervalnya adalah 26.3 tahun. Artinya Rinjani akan mempunyai pola perulangan letusan jangka panjang sekitar rentang waktu tersebut. Jika letusan terakhir yang cukup besar terjadi tahun 1994 dan interval letusan yang dimilikinya 26.3 tahun, maka artinya Rinjani baru akan 'menyapa' kita di awal tahun 2020-an," jelasnya. 

Dia menjelaskan, letusan kecil saat 2004 dan 2009 tentu telah berperan juga dalam mengurangi akumulasi energi. Di mana seperti, pada 2020 pun aktivitas Rinjani sulit untuk mengalami peningkatan. 

"Jadi, masyarakat Lombok, semoga diberi kekuatan dan kesabaran menghadapi gempa ini. Begitu pun Rinjani, bertahanlah untuk tidak 'menyapa' kami semua saat ini," pungkasnya. (fik)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini