nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mensos "Turun Gunung" Cek Pencairan Dana Bansos

Aini Lestari, Jurnalis · Rabu 29 Agustus 2018 20:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 29 340 1943288 mensos-turun-gunung-cek-pencairan-dana-bansos-0Vzje5eZEy.jpg Foto: ist

BATAM - Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita memantau pelaksanaan pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) tahap ke-3 dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahap ke-8, di Kota Batam.

Agus mengatakan, realisasi bantuan sosial PKH telah mencapai di atas 98 persen pada Tahap I dan II dan telah berkontribusi dalam penurunan angka kemiskinan.

Badan Pusat statistik (BPS) telah merilis data tentang penurunan angka kemiskinan di Indonesia sebesar 630 ribu orang menjadi 25,95 juta orang atau 9,82 persen per Maret 2018 dibandingkan per September 2017 (26,58 juta orang atau 10,12 persen).

“Capaian ini menurut BPS disebabkan antara lain bantuan sosial meningkat 87,6 persen. Di Kementerian Sosial, terdapat bansos non tunai PKH, BPNT/Beras Sejahtera (Rastra). Untuk itu pada pencairan tahap ketiga ini saya minta semua pihak terkait bersama-sama menuntaskan pada Agustus,” kata Agus, Selasa (28/8/2018).

Dihadapan 350 KPM PKH yang berasal dari Kecamatan Bengkong, Kecamatan Batu Ampar dan Kecamatan Batam Kota, Agus secara terbuka memberikan kesempatan kepada penerima manfaat menyampaikan kendala, saran atau masukan terkait pelaksanaan program. Saat itu, para ibu menyampaikan bahwa bansos PKH tahap ketiga sudah masuk ke rekening Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di BRI pada awal Bulan Agustus.

 agus

Ia kemudian memberikan motivasi kepada ibu-ibu KPM dengan cara memberi makna dari bait-bait lagu Mars PKH yang dinyanyikan bersama-sama dengan penuh semangat di awal kegiatan.

"Intinya semangat dari PKH adalah kita bangun Indonesia jaya. Ibu-ibu siap menjadi bagian dari Indonesia jaya? Bagaimana caranya? Dalam lagu Mars PKH caranya adalah satukan langkah menyongsong masa depan. Berbekal niat dan kebersamaan," katanya.

Kebersamaan ini, lanjutnya, bukan hanya antara ibu-ibu saja namun juga kebersamaan ibu-ibu dengan para Pendamping PKH, kebersamaan Pemerintah dengan Pendamping PKH juga penting. Dengan kebersamaan apapun tantangannya pasti bisa diatasi.

"Mari sadari bangsa ini besar. Potensinya luar biasa. Bagaimana cara menjadi bangsa yang besar? Bangsa ini harus dibangun oleh orang-orang tegar seperti ibu-ibu. Jangan putus asa. Terus semangat. Sesulit apapun tersenyum. Karena rasa ceria dan gembira menimbulkan optimisme," pungkasnya.

Diketahui, acara tersebut dihadiri Wali Kota Batam H. Muhammad Rudi, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Andi ZA Dulung, Forkopimda Kota Batam, Kepala Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Riau Doli Boniara, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Batam Hasyimah, Pimpinan Bank BRI Taufik dan Anis Abdul Hakim, serta Pimpinan Bulog.

Selain itu, ia berharap bansos PKH dan BPNT dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ia pun berharap kelak ketika kembali ke Kota Batam, akan lebih banyak ibu-Ibu yang telah mandiri atau graduasi dari PKH dan BPNT.

Ia mencontohkan beberapa penerima PKH dari Batam yang telah mandiri atau tergraduasi dari program PKH dan BPNT. Mereka menerima sertifikat Piagam KPM Sejahtera Mandiri dari Menteri Sosial dan diserahkan langsung kepada KPM PKH.

"Ibu Dahliana, mewakili pemerintah saya mengucapkan selamat. Usaha kerupuk yang dijalankan telah membuahkan hasil dengan pendapat bersih Rp3,5 juta per bulan. Semoga memotivasi ibu-ibu yang lain," katanya saat menyerahkan piagam KPM Mandiri disaksikan penerima bansos lainnya.

Dahliana merupakan penerima PKH tahun 2017 saat itu sang suami yang pengangguran diterima bekerja di sebuah perusahaan dan diberi peluang untuk memasarkan kerupuk buatan istrinya di perusahaan tersebut. Dalam setahun usahanya berkembang pesat, kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak terpenuhi selain dari PKH. Ia bahkan sudah bisa menabung. Pada Mei 2018 ia menyatakan mundur dengan ikhlas dari kepesertaan PKH dan BPNT karena telah mampu dan mandiri.

Contoh lain, lanjut Mensos, adalah Sri Lisdawati yang menerima PKH sejak 2010. Ia menjalani usaha payet kebaya dengan modal Rp2 juta (sebagian dari bansos PKH, red). Berbekal kursus menjahit dan menjadi karyawan salah satu butik di Kota Batam.

Setelah butik tutup, ia memberanikan diri menerima orderan payet kebaya. Lambat laun hasil karyanya yang bagus semakin terkenal. Ia bahkan selalu mendapat orderan dari Malaysia dan Singapura. Usahanya makin menanjak pada awal tahun 2018. Kini omset setiap bulannya mencapai Rp10 juta per bulan.

Pemerintah pusat, lanjutnya, tidak akan melepas begitu saja penerima PKH yang telah tergraduasi. Mereka akan tetap dibimbing dan diarahkan untuk memperoleh modal usaha, seperti dari KUR Himbara.

"Kalau ibu sudah lepas (dari PKH, red) maka kami akan tetap bimbing. Mungkin ada yang punya usaha keripik, restoran padang, atau apapun. Mudah-mudahan Allah berikan jalan. Saya minta ketika saya kembali ke Batam, akan lebih banyak ibu-ibu yang graduasi mandiri dan punya usaha," ujarnya menyemangati KPM PKH.

Dalam pertemuan yang berlangsung sederhana dan tak berjarak itu, Mensos juga membuka ruang dialog dengan KPM PKH dan memberi kesempatan mereka untuk menyampaikan kendala atau masalah yang dihadapi di lapangan. Misalnya terkait ketepatan pencairan dan proses bimbingan oleh Pendamping PKH.

“Bagaimana proses penyalurannya selama ini? Apakah ada keluhan atau tidak?Pendampingnya bagaimana? Pelayanannya bagaimana? Mereka baik ya?,” tanya Mensos seraya dijawab serentak “Baik semuaaaaa,” oleh KPM PKH.

Mensos kemudian menyampaikan apresiasinya kepada para Pendamping PKH dan BPNT yang telah bekerja keras untuk mendampingi penerima manfaat program. Menurut dia, keberhasilan PKH dan BPNT tak lepas dari peran pendamping dalam membimbing KPM.

Selain memberikan penghargaan kepada tujuh KPM yang telah mandiri, Mensos juga memberikan bantuan pendidikan sebesar Rp350 ribu per jiwa dari BRI untuk 10 anak-anak dari KPM yang berprestasi di bidang akademik dan non akademik. Di antaranya Jimas Rama Adhitya siswa SMPN 41 Batam yang meraih Juara I Zona Regional Riau Piala Danone, Juara I Provinsi Kepri Piala Danone, dam Juara I Sepak Takraw tingkat Provinsi Kepri.

Ada juga Syaffa Hidayati, pelajar SMPN 41 Batam yang berprestasi di bidang seni yakni Juara I Lomba Mengarang Cerita Pendek dan Juara II Lomba Nasyid tingkat SMP se-Kota Batam.

Ia juga memuji prestasi Dewa Arya Syahputra siswa SMP Negeri 28 Kota Batam yang menjadi juara I Turnamen Futsal FQ Junior Cup I 2014 U-12 se-Kota Batam, Juara II U-12 IYOS Soccer Challenge Jakarta.

“Selamat untuk anak-anakku semua. Semoga prestasi ini dapat menginspirasi anak-anak yang lain untuk terus belajar dan mengukir prestasi,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat mengatakan, PKH di Kota Batam sampai dengan tahun 2018, terdiri dari 21.712 PKH Reguler, PKH Disabilitas 70 orang, PKH Lanjut Usia 106 orang, dan 32.493 keluarga BPNT. Total dana bansos di Kota Batam nilainya mencapai Rp 84.278.440.000.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini