nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bekerja Tidak Harus Pakai Dasi

Agregasi Qerja.com, Jurnalis · Minggu 02 September 2018 13:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 02 65 1944816 bekerja-tidak-harus-pakai-dasi-L8XOyY1NKD.jpg ilustrasi

JAKARTA- Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans), mencoba untuk mengurangi 10 juta pengangguran dalam lima tahun sesuai dengan mewujudkan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo. Lapangan kerja, khususnya di bidang konstruksi terbuka luas. Namun, suplai tenaga kerja tidak mencukupi. 

Terkait hal tersebut, Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Roostiawati berusaha membuka akses informasi seluas-luasnya, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja agar bisa mengisi permintaan pasar dan bersaing dengan tenaga kerja asing. Berikut penjelasan tentang pasar kerja Indonesia yang diceritakan Roos kepada Qerja.com.

Bagaimana kondisi pasar kerja Indonesia sekarang?

Berdasarkan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo, ada target pengurangan 10 juta pengangguran selama 5 tahun. Artinya, kami harus membuka 10 juta lapangan kerja. Selama dua tahun terakhir, kami sudah membuka dua juta kesempatan kerja.

Kami bekerjasama dengan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan Kadin (Kamar Dagang dan Industri). Kami juga bekerjasama dengan semua kementerian agar angka penempatan tenaga kerja terkumpul. 

Bursa Kerja Kota Tangerang Siapkan 8547 Lowongan Pekerjaan Baru

Misalnya, di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang bisa menempatkan hampir satu juta tenaga kerja setiap tahun di sektor infrastruktur untuk konstruksi perhubungan laut, pembangunan dermaga, rel kereta api, bandara, perumahan, dan sebagainya. Berdasarkan analisis kami, sektor konstruksi membutuhkan 3,1 juta tenaga kerja hingga 2019. 

Sementara suplai tenaga kerja belum bisa memenuhi. Maka kita harus waspada. Maka kami minta Balai Latihan Kerja untuk melatih tenaga kerja di sektor tersebut.

Perkembangan sektor infrastruktur memang luar biasa. Sebab, banyak rencana pembangunan seperti jalan tol 1000 kilometer, 1000 perumahan rakyat, 50 dermaga baru dan 20 bandara baru. Semua butuh tenaga kerja. Jadi, permintaan tenaga kerja paling banyak di sektor konstruksi. Selain itu juga sektor pariwisata dan industri menengah ke atas.

Tetapi, banyak orang yang bilang tidak ada kesempatan kerja. Jadi di mana letak bottleneck-nya?

Kalau kita lihat, ada pergeseran di pasar kerja. Banyak orang memilih pekerjaan di bidang jasa. Menggeser kecenderungan ini tidak mudah. Pertama, terkait background pendidikan. Kita tidak bisa langsung memekerjakan pengangguran ke sektor konstruksi.

Selain itu, ada juga pergeseran di sektor pertanian. Angka sudah membunyikan terjadi pergeseran dari sektor agraria ke pelayanan. Sementara lapangan pekerjaan di sektor services terbatas. Hal ini menimbulkan dampak pengangguran baru.

Lalu, bagaimana cara mengatasi pergeseran di pasar kerja?

Misalnya di sektor pertanian harus punya strategi baru untuk mengarahkan ke industri pengolahan, industri pertanian dan perikanan. Pengolahan dengan menggunakan metodologi modern akan diminati pemuda. Kementerian Pertanian sudah berpikir untuk mengarah pada industri pengolahan pertanian. Sehingga nantinya bisa menarik tenaga kerja.

Apa tantangan yang paling mendasar dalam pengembangan pasar tenaga kerja?

Kelemahan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi di Indonesia adalah pada bahasa dan IT. Padahal tenaga kerja berkualitas harus menguasai bahasa dan komputer. Anda jangan lihat perkembangan di kota besar saja. Harus melihat di daerah juga.

Maka, sekarang lulusan S1 sulit mendapat pekerjaan. Harus S1 plus. Keinginan pasar kerja ya tenaga kerja yang menguasai bahasa (Inggris) dan komputer. Peluang kerja di luar negeri banyak, tapi kita tidak bisa mengisinya.

Sekarang coba kita lihat negara Jepang dengan teknologi yang maju. Mereka tidak bisa bertahan dengan mengungkung diri dan merasa semua orang akan mencari mereka (ke Negara Jepang). Akhirnya, Orang Jepang mau belajar Bahasa Inggris juga.

Selain itu, kita kekurangan tenaga kerja untuk level manajer. Banyak peluang yang tidak bisa terisi. Kami tantang teman-teman S2 itu untuk memasuki jabatan itu. Namun, kelemahannya lagi-lagi bahasa.

Selain itu, keahlian tambahan apa lagi yang dibutuhkan?

Sekarang masih ada karang taruna? Pengalaman berorganisasi penting. Jadi orang tidak mudah baper. Kalau pernah berorganisasi bisa mengatasi masalah. Berbeda dengan orang yang terkungkung dan tidak berorganisasi.

Bagaimana menghadapi tantangan pegembangan pasar tenaga kerja?

Sekarang kalau mau belajar bahasa tidak mahal. Anak-anak muda bisa memanfaatkan telepon seluler. Selama ini, tidak dimanfaatkan pada tempatnya, hanya melihat media sosial dan menanggapi hal yang tidak penting. Sebenarnya bisa saja buka berita Bahasa Inggris.

Terkait MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), bagaimana tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan tenaga kerja asing?

Kebanyakan orang menganggap bahwa dengan adanya MEA, maka akan terjadi mobilisasi tenaga kerja. Padahal tidak. Semua tergantung pada aturan ketenagakerjaan masing-masing negara. Misalnya, jabatan manajer personal di Indonesia tertutup, maka tenaga kerja asing tidak bisa masuk. Begitu juga dengan akuntan. Sebaliknya, akuntan Indonesia (dan negara ASEAN lainnya) tidak bisa masuk ke Singapura jika aturannya menyatakan jabatan itu tertutup.

Ada ketakutan di masyarakat bahwa dengan adanya MEA, nantinya supir taksi di Indonesia bisa saja orang asing. Padahal tidak begitu. Kami mencoba menjelaskan di berbagai momen. Kami mencoba mendewasakan publik.

Kami juga melakukan pengendalian tenaga kerja asing. Ketika ada seorang tenaga kerja asing dengan izin kerja mendarat di Indonesia, maka imigrasi akan mengeluarkan izin berdasarkan rekomendasi dari kami. Misalnya, calon tenaga kerja asing mengaku akan bekerja di PT. A. Maka, kami panggil perusahaannya.

Kami tanya alasan mengambil tenaga kerja asing. Kalau ada tenaga kerja Indonesia, mengapa harus memekerjakan orang asing? Kalau alasannya karena membawa investasi, fine. Tapi kalau profesional independen, tidak semudah itu. Selain itu, setiap hari ada jadwal ekspose perusahaan yang mau mendatangkan tenaga kerja asing.

Apa keahlian tambahan yang harus dipelajari oleh pencari kerja untuk menghadapi MEA?

Kita harus menyiapkan diri untuk bersaing. DI Indonesia, ada 227 balai latihan milik daerah dan 9 BLK milik pusat. Sejak awal 2016, kebijakan pelatihan mengubah persyaratan. Peserta pelatihan tidak harus lulusan SMA atau SMK. Siapa saja boleh ikut BLK.

Angkatan kerja lulusan SD banyak. Kalau mereka hanya ingin dilatih jadi tukang las grade 2 dan 3, tidak perlu berpendidikan sampai SMA. Keterampilan yang dibutuhkan, bukan pengetahuan.

Kalau lulusan BLK tidak tertampung di perusahaan, kami buka kesempatan kerja untuk jadi wirausaha. Berdasarkan hasil working group menteri tenaga kerja pada pertemuan G20, ternyata kontribusi tenaga kerja untuk pertumbuhan ekonomi itu besar. Kebijakan tenaga kerja harus ditujukan pada dua arah: menjadikan penganggur entrepreneur dan melakukan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Selain itu, pada 2016-2017 kami fokus pada program pemagangan. Ada dua ribu perusahaan yang menerima magang. Peserta magang akan diterima, dilatih, disertifikasi. Mereka tidak hanya bertugas untuk fotokopi, tapi juga harus terlbat di dalam industri.

Bagaimana cara Kementrian mempermudah akses masyarakat untuk memperoleh info lowongan kerja?

Sekarang kami punya sistem yang disebut informasi pasar kerja online (http://infokerja.naker.go.id/). Kami membantu 496 kabupaten/kota dengan peralatan agar bisa networking. Kami bantu job canvasing.

Kami mendorong mereka melakukan pendekatan dengan industri, memasukkan data lowongan kerja ke pasar kerja, melayani calon tenaga kerja dan mencocokkan mereka dengan lowongan yang ada. Tantangan kami yaitu melatih mereka agar bisa memasukkan info kerja, baik pencari, kesempatan kerja dan termasuk wirausaha.

Namun, kabupaten/kota yang bergerak baru 65 persen (dari yang dilatih). Sementara 35 persen lainnya belum bergerak karena masih euforia kabupaten/kota, pergantian pejabat dengan cepat, pejabat yang sudah dilatih dipindahkan. Padahal memelaari ilmu ketenagakejaan tidak mudah. Rasio ini tidak membuat saya happy.

Tahun ini kami mencoba mengganti akses informasi dengan mobile phone. Saya ingin program yang cocok dengan android. Sebab hp android murah dan sudah dipakai di daerah-daerah. Kami mencoba mengatasi hambatan pada 35 persen kabupaten atau kota yang belum bergerak (setelah pelatihan).

Selain akses lewat situs, ada 53 kabupaten/kota yang melayani tenaga kerja dengan dua cara: online dan pelayanan langsung yang berstadar ISO. Salah satu kota yang bisa melayani dengan baik adalah Surabaya. Bu Risma (Walikota Surabaya) memfasilitasi ruang pelayanan. Pelayanannya seperti di bank: masuk menggunakan kartu, dilayani dengan baik, hingga ada job konseling.

Mimpi saya ke depan bisa menyebarkan informasi lapangan pekerjaan lebih luas melalui pesan di telepon seluler. Misalnya, ada sms yang disebarkan yang berbunyi: "Hari gini belum kerja? Hubungi ini …" Mudah-mudahan hal itu bisa membantu anak muda untuk berkarya.

Berkarya tidak harus di sektor formal. Kerja tidak harus pakai dasi. Kalau mau, kita bisa berkarya asal tidak gengsi. (fik)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini