nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wariskan Ilmu Antropologi, Glinka Tak Pernah Jadi WNI

Agregasi VOA, Jurnalis · Senin 03 September 2018 08:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 03 65 1945070 wariskan-ilmu-antropologi-glinka-tak-pernah-jadi-wni-VMIKH0CVJP.jpg Penghormatan terakhir jenazah Glinka (Foto: VOA Indonesia)

JAKARTA - Perintis Ilmu Antropologi Ragawi Indonesia yang juga rohaniawan Katolik asal Polandia, Pater Prof. Dr. Habil Yosef Glinka, SVD meninggal dunia dalam usia 86 tahun di Surabaya, Kamis (30/8/2018) malam. Guru Besar FISIP Universitas Airlangga ini meninggal dengan tetap berstatus warga negara Polandia, meski telah berkarya selama 52 tahun untuk masyarakat dan sangat ingin menjadi warga negara Indonesia.

Dunia ilmu pengetahuan di Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, setelah kepergian Pater Prof. Dr. Habil Yosef Glinka SVD, perintis dan pakar Antropologi Ragawi atau Bio Antropologi, yang meninggal dunia Kamis (30/8/2018) malam, pada usia 86 tahun. Meninggalnya Pater Glinka – demikian panggilan akrab beliau – menjadi kehilangan besar bagi para biarawan Katolik dari Serikat Sabda Alah (SVD), serta civitas akademika Universitas Airlangga, yang menjadi tempat mengajar Glinka sejak 1985 silam. Sebelumnya, Glinka mengajar di Seminari Tinggi Ledalero, Flores, sejak pertama kali ditugaskan di Indonesia pada 1965.

Provinsial SVD Provinsi Jawa, Pater Joseph Jaga Dawan SVD mengatakan, Pater Glinka SVD, merupakan pastor yang menjadi panutan dalam serikat, sekaligus ilmuwan yang telah ikut mengembangkan bidang ilmu Antropologi Ragawi di Indonesia.

glinka

“Soal Antropologi Ragawi ini kan, dari ilmunya dulu ya, itu memang dia sangat mengharapkan supaya di Indonesia ini juga ada (orang Indonesia yang menekuni), dan memang dia siapkan di Universitas Airlangga itu. Dalam kaitan dengan masyarakat, beliau betul-betul orang yang memperhatikan semua ya, punya dialog yang bagus, relasi yang baik, dan saya kira yang patut dicontoh itu, untuk betul-betul belajar itu jangan tanggung-tanggung, dalam arti bahwa betul-betul memberikan perhatian sepenuhnya. Semangatnya, juga hidup bersama, toleransi, itu kan dia nampak sekali (memberi contoh)," jelasnya.

Banyak karya di bidang ilmu Antropologi dan Sosiologi yang telah dihasilkan Glinka, termasuk 8 buku, 58 artikel ilmiah, dan 35 artikel popular dalam berbagai bahasa, antara lain bahasa Polandia, Jerman, Inggris dan Indonesia. Glinka juga membimbing dan “menghasilkan” 13 doktor bidang antoropologi.

Menteri Energi dan Sumber daya Mineral, Ignasius Jonan, yang hadir dalam Misa Tutup Peti, Sabtu (1/9/2018) siang, menangkap semangat pengabdian tanpa pamrih dari Pater Glinka SVD bagi masyarakat Indonesia. Semangat pengabdian dan karya bagi bangsa dan masyarakat itulah yang menurut Jonan, harus ditiru oleh generasi muda masa kini.

glinka

"Ya ini pengabdian masyarakat, nah kita sendiri kadang-kadang warga negara malah kurang semangat pengabdiannya, yang banyak itu semangat apa, semangat mengkritik. Nah itu yang mesti dikurangi menurut saya. Lha kalau mengkritik saja kan gampang," ujarnya.

Bernada Triwara Rurit, penulis buku Biografi Pater Glinka SVD menuturkan, Glinka merupakan sosok rohaniawan sekaligus ilmuwan di bidang Antropologi yang mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap apa yang dikerjakan. Kecintaannya pada Indonesia membuatnya betah tinggal lama, meski hingga akhir hayatnya Glinka masih berstatus warga negara Polandia.

"Jadi dia masih warga negara Polandia, tapi menurut saya apes saja. Apesnya karena apa, itu juga tidak berlaku kok dengan warga negara Polandia yang lain. Jadi teman-temannya Romo Glinka kan ada 20 orang itu, warga Polandia yang lain dapat kok warga negara Indonesia. Romo Pikor sama Romo Glinka yang tidak dapat, dari rombongan yang ada. Itu soal wilayah pengurusan, itu zamannya Orde Baru ya bukan zamannya sekarang. Itu mereka mengurusnya kan dari zaman Orde Baru. Dugaan saya pertama, Polandia dianggap sebagai negara komunis," tambah Rurit.

Keinginannya menjadi warga negara Indonesia dibuktikannya dengan mengurus berbagai persyaratan untuk menjadi warga negara. Namun birokrasi yang berbelit kala itu, serta masih maraknya pungli, membuat Glinka kesulitan memperoleh kewarganegaraan. Rurit menungkapkan, bahwa Glinka akhirnya harus puas hanya memiliki surat izin tinggal menetap selamanya, untuk memudahkan ia tetap berkarya di Indonesia.

"Kalau gak salah berapa kali gitu, ternyata tetap tidak akhirnya mereka sudah patah arang. 16 tahun yang lalu kalau tidak salah, terakhir ya mereka coba. Tapi kan ketika pemerintahan berganti, nah yang terakhir itu cuma saya ditunjukkan KTA seumur hidup. Jadi mereka itu seperti (dapat) izin tinggal selama-lamanya, jadi mereka itu tidak perlu harus keluar, stempel, harus mengurus ini, nah itu Romo Glinka bilang sama saya katanya itu sudah cukup membahagiakan saya, saya tinggal di sini, saya mati di sini," kata Rurit.

Ignasius Jonan menambahkan, pengabdian Pater Glinka SVD selama 52 tahun bagi masyarakat Indonesia patut mendapat penghargaan, dan menjadi teladan bagi siapa saja yang mengaku mencintai tanah air Indonesia.

"Pater Glinka ini kan 52 tahun dari 86 tahun hidupnya itu, hampir dua pertiga hidupnya itu kan diabdikan di tanah air, di Indonesia. Padahal, sampai beliau wafat pun tidak pernah bisa memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Nah ini kan perspektifnya begini, seorang warga negara asing itu mau mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat, ini bukan umat (Katolik saja) lho ya, masyarakat, karena akademisi jadi kepentingan masyarakat Indonesia yang juga bukan tanah airnya sebenarnya. Tapi terakhir, di sisa hidupnya beliau kan ngomong, Indonesia ini tanah airku," kata Ignasius.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini