nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ngeri Melihat Data Penderita Kanker Serviks, 2 Mahasiswa Unair Ini Buat Aplikasi Pendeteksi

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Jum'at 14 September 2018 07:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 13 65 1950026 ngeri-melihat-data-penderita-kanker-serviks-2-mahasiswa-unair-ini-buat-aplikasi-pendeteksi-uNPTSrYk8c.jpg Mahasiswa Unair Buat Aplikasi Pendeteksi Kanker Serviks (Foto: Unair)

JAKARTA – Dua mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) kembali sumbangkan prestasi. Mereka adalah Siti Nur Seha (Fisika 2014) dan Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok, (Fisika 2016).

Karyanya berhasil menjadi juara pertama dalam ajang Lomba Inovasi Sains (Invasi) yang digelar di Universitas Udayana. Kali ini mereka mengangkat tema riset ilmiah dan aplikasi perangkat lunak yang diimplementasikan dalam bidang kesehatan. Kemudian tercetuslah ide untuk mengembangkan sebuah aplikasi mobile yang dapat mendeteksi kanker serviks sejak dini.

Lebih lanjut, Siti menjelaskan bahwa berdasar data dari World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan pertama dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia.

”Ini sangat mengerikan. Kami ingin menekan angka kejadian kanker serviks di Indonesia,” kata Siti yang dikutip Okezone dari laman resmi Unair, Kamis (13/9/2018).

Motivasinya mengikuti Invasi adalah sebagai salah satu bentuk penerapan ilmu yang dipelajari selama menempuh pendidikan di FST UNAIR. Dengan begitu, ilmu yang diperoleh tidak hanya berakhir di atas kertas, melainkan dapat melahirkan inovasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Siti mengaku sangat bersyukur. Karyanya menjadi yang terbaik di antara inovasi lain yang juga tak kalah menarik.

”Kami senang karena inovasi kami dihargai dan semoga bisa diterima di masyarakat pada saatnya nanti. Kami berharap ini awal yang baik untuk terus mengembangkan aplikasi ini,” ujar mahasiswi yang aktif di UKM Kependudukan tersebut.

Kendati demikian, dia tak menampik bahwa selama proses pengembangan karyanya mengalami beberapa kendala. Misalnya, kesulitan mengumpulkan data saat melakukan observasi.

Dia menuturkan, mendapat data dari Dinas Kesehatan dan pakar kesehatan lainnya bukan hal yang mudah.

Meski begitu, dia bersama rekan satu timnya tak lantas menyerah. Mereka pun kembali menata tekad dan tujuan awal untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan berbekal semangat tersebut, timnya pun sukses menyelesaikan riset.

Sebelum mengikuti final Invasi di Denpasar, Siti mengikuti kegiatan lain yang juga bertajuk inovasi. Yakni, Kino Youth Innovator Award (KYIA) 2018 pada tanggal 28–31 Agustus di Tangerang Selatan. Padatnya aktivitas, diakuinya cukup menguras tenaga dan pikiran.

”Tapi, Alhamdulillah, stamina tetap terjaga. Sehingga, pada tanggal 31 Agustus siang saya bisa langsung mendarat di Denpasar untuk mengikuti rangkaian kegiatan INVASI. Yang meliputi presentasi, seminar dan pameran, serta gala dinner sebagai malam puncak penganugerahan bagi pemenang INVASI,” Kenangnya.

Siti menambahkan bahwa untuk mencapai pada titik tersebut, harus disertai usaha dan doa yang sungguh-sungguh. Dia pun mengungkapkan harapannya pasca mengikuti INVASI.

”Ikhtiar dan doa yang tidak boleh putus. Serta, semangat yang tidak boleh kendur. Harapannya, kami bisa terus memberikan inovasi yang dibutuhkan masyarakat melalui ilmu yang kami peroleh di bangku kuliah,” tuturnya.

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini