nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kirab Satu Negeri Zona Sabang Diberangkatkan dari Titik Kilometer Nol

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Minggu 16 September 2018 17:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 16 340 1951243 kirab-satu-negeri-zona-sabang-diberangkatkan-dari-titik-kilometer-nol-3N1jKs9cs7.jpeg Proses pemberangkatan tim Kirab Satu Negeri GP Ansor zona Sabang (Foto: Ist)

SABANG - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menggelar prosesi pemberangkatan tim Kirab Satu Negeri di Sabang, Nangroe Aceh Darusalam, Minggu (16/9/2018). Acara dipusatkan di titik Kilometer Nol.

Selain Sabang, Kirab Satu Negeri GP Ansor juga diberangkatkan di empat wilayah terluar Indonesia lainnya, yakni Merauke, Miangas, Rote, dan Nunukan.

Menurut Koordinator Kirab Satu Negeri Zona Sabang, Abdul Kharis Ma'mun nantinya tim kirab yang membawa 17 panji Bendera Merah Putih akan melintasi Provinsi Sumatera Utara, Pekanbaru, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat

"Selain melepas tim kirab, di Sabang dan Banda Aceh kami menggelar juga mujahadah dan doa bersama untuk Indonesia," kata Abdul Kharis Ma'mun, di sela acara.

Dia menjelaskan, di provinsi-provinsi yang dilintasi tim kirab akan digelar berbagai acara. Dengan melewati berbagai provinsi, para kader Ansor dan Banser akan semakin memahami begitu besarnya wilayah Indonesia. Lebih dari itu, peserta akan menghargai beragam perbedaan atau kemajemukan yang ada di Tanah Air.

Nantinya, semua bendera dari lima zona akan disatukan di Kota Yogyakarta, sekaligus tempat puncak acara pada 26 Oktober mendatang. Direncanakan, Presiden Joko Widodo akan hadir dan menyatukan semua bendera dari lima zona tersebut.

Menurut Abdul Kharis, mengutip amanat Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, kirab bertajuk "Bela Agama Bangsa Negeri" ini merupakan ikhtiar GP Ansor dalam upaya mengingatkan kepada seluruh warga bangsa untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

"Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 harus tetap kokoh jadi pengikat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama juga harus dijadikan rahmah, atau sumber kasih sayang dan perdamaian, sebagaimana telah dipraktikkan berabad-abad oleh nenek moyang bangsa Indonesia," kata kutip Abdul Kharis.

Ketum GP Ansor, sebut Abdul Kharis, yakin rakyat Indonesia akan setuju dan mendukung tujuan-tujuan mulia ini. Karena, meskipun berbeda-beda suku, etnis, agama, bahasa, budaya, selera dan seterusnya, namun hakikatnya mempunyai lebih banyak kesamaan.

"Kita ini sama menghirup udara dari kolong langit Indonesia. Sama minum dari air bumi pertiwi; sama lahir, tumbuh dan mati di tanah nusantara; sama ingin membela agama, bangsa dan negeri dalam satu tarikan napas. Kita ini sama Indonesia," tandas Abdul Kharis mengutip amanat Gus Yaqut.

Abdul Kharis sendiri mengajak seluruh elemen bangsa untuk semakin menghargai kemajemukan dan keberagaman bangsa Indonesia.

“Berbagai keragaman seperti suku, adat, agama, dan bahasa adalah kekayaan yang sangat tak ternilai harga. Untuk itu mari saling menghargai kemajemukan dan keberagaman bangsa Indonesia ini,” ujarnya lagi.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini