nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG Pantau 87 Titik Panas, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Mendominasi

Antara, Jurnalis · Senin 17 September 2018 11:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 17 340 1951455 bmkg-pantau-87-titik-panas-sumatera-selatan-dan-bangka-belitung-mendominasi-Hhnr5dkBIK.jpg Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (foto: Ist)

BANDA ACEH - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menemukan sebanyak 87 titik panas terdeteksi oleh satelit yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daratan Pulau Sumatera, pada Senin (17/9/2018).

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Blang Bintang, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, mengatakan, ke-87 titik panas ini tersebar di empat provinsi, yakni Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung.

(Baca Juga: BMKG Pantau 22 Titik Panas di Sumatera) 

"Pagi ini di Aceh, nihil titik panas. Tetapi di empat provinsi ada 87 titik, dan terbanyak masih disumbang oleh Sumsel (Sumatera Selatan) dan Bangka Belitung," terang dia.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (foto: Ist)Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (foto: Ist) 

Dari laporan pihaknya yang terus melakukan pembaharuan data titik panas menyebut, ada 24 titik di antaranya telah menjadi titik api akibat karhutla karena memiliki tingkat kepercayaan lebih dari 81 persen.

Lalu 26 titik di antaranya diduga sebagai titik api akibat dengan tingkat kepercayaan di atas 71 persen, 19 titik mengkhawatirkan dengan kepercayaan lebih 61 persen, dan terakhir 18 titik dalam kategori aman akibat tingkat kepercayaan 51 persen.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)pekan lalu mengklaim, titik panas dan kebakaran di Kalimantan dan Sumatera jauh berkurang akibat sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengurangi titik panas yang mengindikasikan karhutla.

Kasubdit Tanggap Darurat BNPB, Budhi Erwanto mengatakan, dari perkembangan kabar yang pihaknya terima, jumlah titik panas di Sumatra dan Kalimantan dewasa ini sudah menurun.

"Saya tidak hapal angka (penurunan hotspotnya), yang jelas jumlahnya menurun dibandingkan kemarin karena kami menurunkan helikopter 'water bombing', hingga melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC)," pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini