Pesawat Tanpa Awak ITS Siap Berlaga di Turki

Vanni Firdaus Yuliandi, Okezone · Rabu 19 September 2018 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 18 65 1952301 pesawat-tanpa-awak-its-siap-berlaga-di-turki-QwIlZYOCdY.jpg Tim Bayucaraka ITS (Foto: ITS)

JAKARTA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali berkesempatan menunjukkan taringnya di kancah dunia. Melalui Tim Bayucaraka, ITS unjuk kebolehan dalam kontes pesawat nirawak tingkat dunia, TÜBİTAK International Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Competition.

Tim Bayucaraka yang akan berlaga terdiri dari 5 kru ITS. Mereka, antara lain Meilinda Anandhita sebagai manajer proyek, Audie Rahamani sebagai pimpinan tim, Muhammad Ichlasul Salik sebagai pilot, Muhammad Farih sebagai programmer, dan Almizan Aryanto sebagai teknisi elektronik. Keberangkatan Tim Bayucaraka pun direstui oleh Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD.

Di bawah bimbingan Ronny Mardiyanto ST MT PhD, Bayucaraka telah menyiapkan pesawat yang bisa melakukan misi dan menyusun strategi. Untuk persiapan non teknis, segala urusan administrasi dan kebutuhan saat perjalanan telah disiapkan. “Saat ini pesawat sudah dalam keadaan siap packing,” ujar Meilinda, seperti dikutip Okezone, Rabu (19/9/2018).

Terdapat dua kategori lomba pada kontes TÜBİTAK tahun ini, yaitu Fixed Winged UAV Systems dan Rotary Winged UAV Systems. “Bayucaraka sendiri mengikuti Fixed Winged UAV Systems dengan membawa dua pesawat, satu pesawat untuk cadangan,” tutur mahasiswi angkatan 2016 tersebut.

Pada perlombaan ini, bentuk penilaiannya dibagi menjadi empat yaitu laporan dan tiga misi. Untuk saat ini, Bayucaraka menduduki ranking ke 14 dari 80 peserta untuk nilai laporan mereka. “Target dari posisi sekarang, kami ingin mencapai tiga besar,” tandasnya antusias.

Meski baru kali pertama mengikuti UAV International Turkey Competition, rektor ITS percaya dengan kemampuan Bayucaraka. “Karena sudah berani melaju ke kompetisi internasional, semua resiko harus bisa dihadapi. Yang terpenting harus punya target maksimal,” pesan Joni.

Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan tersebut juga berpesan agar Bayucaraka tidak lengah dan dapat melihat potensi pesaing yang ada. “Semua yang dilakukan Bayucaraka hingga sekarang pasti dapat dijadikan sebagai ajang berproses, selalu ada yang dapat dipelajari dari apa yang diperjuangkan,” pungkas Joni sembari melepas tim.

 

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini