nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Juta Anak di Yaman Berisiko Kelaparan Akibat Konflik Berkepanjangan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 19 September 2018 09:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 19 18 1952493 5-juta-anak-di-yaman-berisiko-kelaparan-akibat-konflik-berkepanjangan-4JE0Bo7dtB.jpg Anak berusia 14 tahun kekurangan gizi dan menjalani perawatan di klinik Kota Amran, Yaman. (Foto: Mohammed Awadhi/Save the Children).

JUMLAH anak yang menghadapi risiko kelaparan di Yaman telah mencapai 5,2 juta orang akibat konflik berkepanjangan di sana. Hal ini sebagaimana dilaporkan lembaga kemanusiaan Save the Children yang juga mencatat peningkatan harga-harga pangan dan kemerosotan nilai mata uang Yaman.

"Jutaan anak tidak tahu apakah makanan berikutnya akan tersedia," kata Direktur Eksekutif Save the Children International Helle Thorning-Schmidt, Rabu (19/9/2018).

"Di sebuah rumah sakit yang saya kunjungi di Yaman Utara, bayi-bayi terlalu lemah untuk menangis, tubuh mereka letih akibat kelaparan."

"Perang ini berisiko membunuh satu generasi anak-anak di Yaman. Mereka menghadapi beragam ancaman, mulai bom hingga kelaparan, sampai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah seperti kolera," paparnya.

Sepanjang 2018 saja, Save the Children mengungkapkan menangani 400.000 anak berusia di bawah 5 tahun yang menderita kekurangan gizi. Lembaga itu memperingatkan bahwa lebih dari 36.000 anak bakal meninggal dunia sebelum tahun ini berakhir.

Peta konflik di Yaman. (Foto: BBC)

Mengapa Terjadi Pertempuran di Yaman?

Yaman telah dilanda konflik sejak awal 2015 ketika pemberontak Houthi merebut kendali bagian barat negara itu dan memaksa Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi mengungsi ke luar negeri.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan tujuh negara lainnya kemudian memutuskan mengintervensi serta berupaya mengembalikan kekuasaan pemerintah Yaman karena menilai Iran berada di balik pemberontak Houthi.

Bagaimana Dampak Pertempuran terhadap Rakyat Yaman?

Pertempuran ini menyebabkan gaji pegawai negeri dan guru tidak dibayarkan. Bahkan, beberapa PNS tidak menerima gaji selama hampir dua tahun.

Mereka yang menerima gaji harus menghadapi kenyataan bahwa harga-harga pangan melonjak 68 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum pertempuran berlangsung.

Di saat bersamaan, menurut lembaga Save the Children, nilai mata uang Yaman merosot 180 persen.

Berdasarkan data PBB, hampir 10.000 orang tewas dibunuh dalam konflik di Yaman —dua pertiga dari mereka merupakan warga sipil. Selain itu, 55.000 lainnya luka-luka akibat pertempuran.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini