Tim Jokowi-Ma'ruf: Semua Harus Bersatu Lawan Hoaks saat Pemilu 2019

Bayu Septianto, Jurnalis · Rabu 19 September 2018 06:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 19 605 1952438 tim-jokowi-ma-ruf-semua-harus-bersatu-lawan-hoaks-saat-pemilu-2019-zs6JkpIVEF.jpg Ilustrasi.

JAKARTA - Berita atau informasi yang belum diketahui kebenarannya atau hoaks diprediksi bakal bermunculan saat Pemilu 2019. Apalagi di tahun itu Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) dilaksanakan serentak. Untuk itu. dibutuhkan strategi bagi setiap peserta Pemilu untuk mengantisipasi hoaks 'menghantui' masyarakat.

Wakil Sekretaris Tim Pemenangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni menilai hoaks sangat merugikan, tak hanya satu orang atau kelompok tertentu tapi juga masyarakat secara luas. Berita hoaks, lanjutnya berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bila tak dicek kembali kebenarannya.

"Yang namanya hoaks adalah fitnah, keji, dan memecah belah," ujar Toni saat dihubungi Okezone, Rabu (19/9/2018).

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini mengatakan, semua unsur masyarakat harus bersatu melawan hoaks. Menurut Toni, sapaan akrabnya, informasi hoaks saat ini bisa berupa tulisan, foto hingga video yang disebar secara luas oleh oknum tertentu untuk menjatuhkan lawan politiknya.

"Semua harus bersatu melawan hoaks apapun dari siapa pun," jelas Toni.

Sebelumnya diberitakan Okezone, polisi telah mengamankan pelaku penyebar berita bohong atau hoaks soal demo mahasiswa ricuh di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Satu tersangka di antaranya merupakan anggota Front Pembela Islam (FPI) bernama Suhada Al Syuhada.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono merinci alasan anggota FPI itu turut menyebarkan berita bohong, karena untuk memancing publik menggelar aksi unjuk rasa menuntut pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Berita Hoaks

"Alasan menyebar hoaks ingin meyampaikan berita dan berbagi info untuk mengajak, agar berita viral dan tersebar melalui online bahwa mahasiswa Jakarta sudah turun ke jalan untuk melaksanakan demo dengan tuntutan menurunkan presiden," kata Argo.

Pelaku sudah mengetahui bahwa video yang disebarkan itu adalah rekaman simulasi pengamanan demo yang dilakukan polisi dalam rangka persiapan Pemilu 2019. Namun, oleh tersangka dibuat seolah-olah kejadian itu real dan sedang berlangsung untuk menjatuhkan Jokowi.

"Iya sudah tahu kalau itu simulasi. Maksudnya dengan adanya simulasi itu oleh tersangka dibuat seolah-olah nyata agar yang lain ikut turun untuk untuk rasa," katanya.

Selain Syuhada, sudah ada empat pelaku yang diciduk polisi, di antaranya bernama Gun Gun Gunawan, Muhammad Yusuf dan Nugrasius.

Para pelaku terancam dijerat Pasal Pasal 14 dan Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 28 ayat (2) junto Pasal 45A ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tengtang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2018 tentang ITE.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini