nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terinspirasi dari Hiportemia, Mahasiswa RI Ciptakan Jaket Suhu Badan

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Kamis 27 September 2018 11:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 27 65 1956252 terinspirasi-dari-hiportemia-mahasiswa-ri-ciptakan-jaket-suhu-badan-jlE2s6VPzc.jpg Foto: Bahaya Hipotermia di Gunung (KSR)

JAKARTA – Tim J-ROID yang merupakan gabungan mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya meraih medali emas di China melalui ciptaannya yaitu inovasi teknologi di bidang kesehatan berupa jaket yang berfungsi untuk menyeimbangkan suhu tubuh.

Pada kompetisi yang diikuti oleh 253 tim dari 49 negara ini mahasiswa UB memperoleh penghargaan tambahan yakni penghargaan khusus dari Thailand sebagai inovasi terbaik.

 Baca Juga: Hipotermia saat Mendaki Gunung, Pelajari Cara Mencegah dan Mengatasinya!

Melansir dari website UB, Kamis (27/9/2018), Ketua tim J-ROID Bagas Priyo Hadi Wibowo (Teknik Elektro 2015) menjelaskan dibuatnya jaket ini untuk mengantisipasi kasus hipotermia di Indonesia.

“Di Indonesia sendiri sering terjadi kasus tentang hipotermia dan hipertermia mengingat di lingkungan geografis Tanah Air terdapat beberapa daerah yang memiliki suhu ekstrem. Nah, jaket ini berfungsi untuk mengantisipasi hal tersebut,” ujar Bagas.

 

J-ROID adalah singkatan dari Android Jacket for Hypothermia & Hyperthermia. Bersama empat rekannya Bagas menciptakan jaket ini diantaranya Firmansyah Putra Satria (Teknik Elektro 2015), Ahmad Fathan Halim (Teknik Elektro 2015), Annisa Istighfari Hernanda R. (Fakultas Kedokteran 2015) dan Yurike Putri (Fakultas Kedokteran 2015) dan dibimbing oleh dosen Eka Maulana.

Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 1999-2011 di Amerika Serikat terjadi sekitar 7.415 kematian yang disebabkan oleh heart relates illness (penyakit terkait jantung) dan 16.911 kematian lainnya akibat execrssive natural cold (dingin yang berlebihan).

“Kondisi ini yaitu yang berhubungan dengan adanya mekanis kontrol tubuh yang tidak dapat menyeimbangkan suhu tubuh terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas sekitar. Hal inilah yang melatar belakangi penelitian kami,” Jelas Bagas.

 

Tim ini membutuhkan waktu persiapan sekitar 2 bulan untuk mengikuti ajang kompetisi The 10th International Exhibition of Inventions (IEI) & The 3rd World Invention and Innovation Forum (WIIF) 2018 di kota Foshan, China yang digelar pada tanggal 13-15 September 2018.

Rencana ke depannya, alat ini akan dikembangkan lagi sehingga dapat lebih akurat, efisien dan efektif sehingga pada masa mendatang J-ROID dapat diaplikasikan secara penuh di masyarakat.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini