nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Masyarakat Diminta Tidak Panik

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 28 September 2018 20:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 28 337 1957150 nilai-tukar-rupiah-melemah-masyarakat-diminta-tidak-panik-GppvsuYF4M.jpg Diskusi terkait Pilpres 2019. (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

JAKARTA – Ketua DPD Partai Perindo Jakarta Pusat Pahala T Sianturi meminta kepada masyarakat Indonesia untuk tidak panik melihat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sebab, situasinya berbeda dengan krisis moneter pada 1998.

"Masyarakat tak perlu panik, ini bukan pelemahan rupiah di tahun 1998. Jangan ada yang politisir nakut-nakuti karena ini beda sekali dengan krismon '98," kata Pahala saat diskusi publik 'Awas Penumpang Gelap Bikin Gaduh Pilpres 2019' di Omah Kopi 45 Kompleks Gedung Joeang 45 Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018).

Pahala meyakini kalau kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla mampu mengakhiri permasalahan tersebut. Dirinya juga yakin dalam waktu dekat rupiah kembali menguat di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

(Baca juga: Rupiah Anjlok, Ketua DPR Minta Semua Pihak Tak Cari "Kambing Hitam")

Selain itu, ia mempunyai solusi untuk membantu menguatkan mata uang rupiah. Salah satu cara yang terbaik yakni menyita semua uang perkara korupsi yang jumlahnya hingga triliunan, lalu dana tersebut digunakan untuk membayar utang.

"Kalau kita ambil semua uang kasus korupsi untuk membayar utang negara, saya yakin nilai rupiah akan kembali menguat," jelasnya.

Sementara itu, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Razman Nasution pun menyayangkan kubu lawan Jokowi menggaungkan isu tersebut demi melemahkan calon petahana.

"Ini enggak ada masalah, dan justru cuma digaung-gaungkan saja, seolah-olah semua mahal. Isu ini yang akan ditanam untuk melemahkan Jokowi," tutur Razman.

Ia juga menyarankan kelompok anti-Jolowi berkaca dari Turki. Razman juga memastikan pelemahan rupiah yang hampir tembus ke angka Rp15.000 ini tidak berujung seperti krisis moneter 1998.

"Ada opini publik di balik-balik. Ini beda dengan dulu dan dulu ada akumulasinya. Persoalan krismon itu ada pemicunya dan sekarang Rp15.000 juga tidak ada masalah. Marilah kita bertarung secara martabat, ini harus dibangun," ujarnya.

(Baca juga: Rupiah Anjlok, Sandiaga: Jangan Saling Serang soal Isu Ekonomi)

Dalam kesempatan sama, Ketua Aliansi Rakyat Bersatu Syarifuddin mengajak seluruh rakyat Indonesia tidak terpengaruh dengan politisasi pelemahan rupiah tersebut. Dia pun mengimbau agar publik ringan tangan mengeluarkan simpanan dolar AS untuk membantu penguatan nilai tukar rupiah.

"Mari dukung kebijakan pemerintahan Jokowi-JK agar nilai tukar rupiah kembali menguat dan stop mempolitisasi dengan membuat gaduh suasana. Kami tekankan lagi bahwa situasi ini masih sangat jauh dari krisis mata uang ke krisis finansial. Apalagi merembet ke krisis ekonomi seperti 1998," terangnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga mengimbau kepada rakyat untuk turut andil dalam menyukseskan agenda Pemilihan Presiden 2019. Caranya dengan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di seluruh Indonesia.

"ARB siap menjadi ujung tombak untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat demi menjaga kamtibmas agar kontestasi politik bisa berjalan aman tertib, lancar, demokratis tanpa menimbulkan kegaduhan, mengorbankan keberagaman, dan kebhinnekaan NKRI," tegasnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini