nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kiprah TNI di Era Milenial

Salman Mardira, Jurnalis · Sabtu 06 Oktober 2018 09:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 05 337 1960319 kiprah-tni-di-era-milenial-pRZs1ibbSD.jpg TNI (Antara)

INDONESIA tak pernah lagi berkonfrontasi dengan negara lain di era reformasi, tapi bukan berarti kekuatan militernya tak berfungsi. TNI terus meningkatkan kemampuan dan terlibat dalam banyak operasi, baik perang maupun non perang.

Setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia berdamai di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005, konflik bersenjata yang berlangsung selama tiga dasawarsa di Aceh pun berakhir. Praktis tak ada lagi perang senjata.

Indonesia hampir tak ada lagi gerakan separatis bersenjata yang mengancam NKRI, kecuali di Papua. Itu pun masih dianggap bisa ditangani dengan persuasif, belum diperlukan pengerahan militer besar-besaran seperti saat melawan GAM dulu di Aceh.

Maka, dengan tak adanya perang, bagaimana fungsi kekuatan TNI sekarang?

TNI memiliki tiga matra; darat, laut dan udara yang tiap angkatan memiliki kekuatan mumpuni. Alat tempur atau alutsista makin cangggih. Kekuatan militer Indonesia masih yang terkuat di Asia Tenggara, diakui juga di Asia. Situs Global Fire Power menempatkan kekuatan TNI di posisi 14.

TNI di car free day Jakarta (Bayu/Okezone)

Selain prajurit regular, TNI juga memiliki pasukan elite dan unit khusus di tiap-tiap matra. Bisa digerakkan kapan saja dalam kondisi apapun, untuk perang maupun bencana.

Penanggulangan Bencana

TNI terdepan dalam penanganan bencana. Kemampuan SAR mereka sangat membantu masyarakat dan pemerintah. Ini adalah salah satu peran penting TNI di era sekarang. Bersama Polri, TNI solid dalam menangani bencana.

"TNI dan Polri yang tercepat dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat yang dilanda bencana," kata Presiden Joko Widodo dalam amanatnya saat memimpin HUT ke 73 TNI di Lapangan Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat 5 Oktober 2018.

Jokowi mengapresiasi peran TNI dalam menangani bencana. Dia mencontohkan saat gempa Lombok yang menelan ratusan korban jiwa, kemudian gempa-tsunami di Sulawesi Sulawesi Tengah yang menewaskan lebih 1.200 orang.

Presiden Jokowi cek pasukan di upacara HUT ke 73 TNI (Puspen TNI)

TNI sigap mencari, mengevakuasi, membantu korban. Mereka jadi yang pertama menembus lokasi-lokasi terisolasi untuk menyerahkan bantuan. Membuka akses jalan yang terputus agar distribusi bantuan bisa lancar.

“TNI telah mengerahkan personel dan alutsista guna membantu penanganan bencana," ujar Jokowi.

Saat tsunami dahsyat menerjang pesisir Aceh pada 26 Desember 2004, TNI juga jadi andalan. Aceh kala itu berstatus Darurat Sipil, perang masih berkecamuk. Tapi, tsunami “menyatukan” TNI dan GAM. Kedua pihak sama-sama jadi korban. Mereka melupakan pertikaian sejenak, karena fokus mencari teman, keluarga yang terseret tsunami serta membantu korban.

Selain membantu pencarian, evakuasi dan penyaluran bantuan, pada masa tanggap darurat, TNI membuka akses jalan terputus sepanjang pantai barat dari Banda Aceh ke Meulaboh. Mereka membuka jalan alternatif, membangun jembatan brailer sehingga Aceh Jaya dan Aceh Barat yang sempat terisolasi bisa ditembus untuk penyaluran bantuan via darat.

Evakuasi korban gempa di Hotel Roa-Roa, Palu (Okezone)

Pesisir barat Aceh paling parah diterjang tsunami; jalan, jembatan dan rumah-rumah warga lenyap ditelan gelombang.

Ketika gempa mengguncang Kabupaten Pidie Jaya dan Pidie pada 7 Desember 2017 yang menewaskan lebih dari 100 orang, TNI turun. Mereka lihai mengevakuasi korban-korban yang tertimbun reruntuhan.

Operasi militer non perang juga dilakukan TNI saat gempa Lombok. Sebanyak 2.607 personel dari Angkatan Udara, Darat dan Laut dikerahkan ke sana, lengkap dengan kapal rumah sakit KRI dr Soeharso, tim medis, psikologi hingga zeni atau konstruksi.

Saat gempa dan tsunami melanda Sulteng, Jokowi langsung menelepon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Panglima merespons perintah Presiden dengan mengerahkan 1.273 personel untuk membantu korban.

TNI bawa bantuan ke korban kelaparan di Pulau Seram (Puspen TNI)

Mereka juga membawa 360 orang relawan, puluhan kendaraan operasional dan crane. 80 ton bantuan logistik serta alat kesehatan juga sudah dikirim. TNI juga berhasil menembus Donggala yang di awal-awal tsunami posisinya masih terisolasi.

Jokowi saat berkunjung ke Palu pada Minggu 30 September lalu mengenakan seragam TNI. Menurut pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati, itu bertujuan untuk “memberi apresiasi dan semangat kepada Prajurit TNI yang sedang bertugas.”

TNI bersama warga kampung dilanda kelaparan di Pulau Seram (Puspen TNI)

Pada awal Juli 2018, Indonesia dihebohkan dengan bencana kelaparan melanda seratusan warga suku terasing di pedalaman Pulau Seram, Maluku yang menewaskan tiga orang. TNI langsung bergerak membawa makanan dan obat-obatan. Mereka menempuh medan berat, jalan kaki seharian menembus hutan untuk sampai ke kampung itu.

“Kita benar-benar angkat topi setinggi-tingginya untuk TNI yang sangat berkorban untuk penanganan bencana selama ini, terutama untuk Lombok dan terakhir di Palu, Sigi dan Donggala,” kata anggota Komisi I DPR RI, Evita Nursanty.

Menurutnya hal itu sesuai dengan Permen Pertahanan Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pokok-Pokok Penyelenggaraan Tugas Bantuan TNI dalam Menanggulangi Bencana Alam, Pengungsian dan Bantuan Kemanusiaan.

Ketahanan Pangan

Selain penanganan bencana, TNI juga terlibat aktif dalam membantu pemerintah mewujudkan program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional, dengan mengerahkan bintara ke desa-desa membantu petani menggarap lahan, membantu pengairan, hingga meningkatkan produksi.

Paskhas TNI AU (Dede/Okezone)

Mereka juga bergerak lewat TNI Mangunggal Membangun Desa (TMMD), program perbaikan dan peningkatan sarana-prasarana di pedesaan untuk menunjang pembangunan serta ekonomi.

Di luar negeri, peran TNI dalam mengawal perdamaian dunia juga diakui. Militer Indonesia selalu dilibatkan dalam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Secara individu, prajurit-prajurit TNI juga banyak mengukir prestasi dalam berbagai kompetisi tingkat lokal maupun international.

Tingkatkan Kemampuan

Presiden Jokowi meminta TNI terus meningkatkan kapasitas dan kemampuan menghadapi kemajuan zaman.

"TNI menghadapi tantangan yang semakin kompleks, kemajuan teknologi informasi kecerdasan buatan, artificial intelligence, teknologi tanpa awak, media sosial dan berbagai perubahan sosial yang baru merupakan sebuah tantangan yang nyata dan harus diantisipasi," katanya.

Pasukan elite TNI AL (Okezone)

Hadi Tjahjanto meminta TNI terus meningkatkan wawasan dan skill menghadapi era revolusi industry 4.0.

“Saya mengajak seluruh prajurit agar tidak menutup diri dan mengurung diri di barak. TNI harus bertransformasi, harus membuka wawasan seluas-luasnya agar tidak tertinggal, terutama dalam merespon setiap permasalahan dan ancaman," ujar Hadi beberapa waktu lalu.

Menurutnya zaman digital ini ancaman dihadapi negara bukan sekadar kekuatan senjata. "Ancaman-ancaman perkembangan teknologi itu pada era revolusi 4.0 adalah ancaman siber, ancaman biologi dan ancaman kesenjangan."

Evita Nursanty mengatakan TNI harus terus latihan dan membenahi semua sisi. Meski perang sudah tidak ada sekarang, tapi prajurit harus selalu siap kapan dibutuhkan.

“Jadi harus siaga dalam setiap saat. Siaga itu mulai dari kemampuan personil, alutsista, manajemen, dan lainnya. Kita ingin TNI kita makin disegani di kawasan dan dunia untuk pertahanan kita,” tukas politikus PDI Perjuangan itu.

Latihan antiteror TNI AL (Rus Akbar/Okezone)

Susaningtyas Kertopati menilai pembenahan TNI harus diutamakan untuk peningkatan kompetensi dan kapasitas prajurit demi menjadi scholar warrior.

“Kompetensi prajurit TNI harus mencapai tingkatan setara dengan kompetensi prajurit negara maju. Kapasitas prajurit TNI harus mencapai tingkatan intelektual akademik melakukan analisis berbagai operasi militer secara ilmiah.”

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini