nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

ITS Kulik Teknologi Nano Bareng Pakar Asal Jepang

Nadia Tisca Ekasari, Jurnalis · Jum'at 05 Oktober 2018 19:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 05 65 1960340 its-kulik-teknologi-nano-bareng-pakar-asal-jepang-FD1E859DIi.jpg Kuliah Tamu Internasional (Foto: ITS)

JAKARTA – Nanotech adalah ilmu untuk membuat mesin-mesin yang berukuran sangat kecil, dalam level molekul. Semakin hari teknologi ini menjadi berkembang. Tetapi ada bahaya dibalik teknologi nano.

Prof Dr Eng Manabu Shimada memberikan informasi ini dalam kuliah tamu international yang diselenggarakan departemen Teknik Kimia di Auditorium Oedjoe Djoeriaman, Selasa (2/10). Teknologi adalah terobosan yang mengontrol zat dan material hingga keukuran nanometer yang banyak dikembangkan di bidang kesehatan hingga pertanian.

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Bedah Mobil Listrik Ezzy, Hasilnya Cukup Mengagetkan

Tetapi, teknologi nano menyimpan bahaya mengancam kesehatan. Dosen Eng Manabu Shimada menerangkan bahwa teknologi nano itu baik, tapi tidak seorang mengkonfirmasi apakah itu aman atau tidak. Ia melanjutkan ancaman utama terdapat pada residu dari teknologi nanologi itu sendiri.

ITS

Endapan tersebut menjadi sangat berbahaya jika sudah terkontaminasi oleh bahan kimia lainnya khususnya bila masuk ke dalam tubuh. Tubuh akan memberikan reaksi penolakan terhadap partikel asing yang masuk dan mengeluarkannya. Namun, ada kondisi tubuh tidak mampu untuk mengeluarkan residu tersebut dan akhirnya menetap di dalam tubuh selamanya.

Baca Juga: 87% Mahasiswa Merasa Salah Jurusan, Mahasiswa ITS Buat Aplikasi Aku Pintar

Ini akan sangat berbahaya jika partikel itu masuk ke dalam saluran pernafasan, ukuran yang sangat kecil dan halus bisa masuk ke gelembung paru-paru atau alveolus. Di sini proses pertukaran oksigen dengan karbon dioksida berlangsung, dan bisa menimbulkan kematian.

Untuk mencegah risiko kesehatan dalam pengembangan teknologi nano diperlukan penanganan yang tepat. Penelitian lanjutan terus dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk kesehatan yang bisa ditimbulkan teknologi nano. “Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, kita harus bisa mengukur residu partikel nano dan mengumpulkannya sebelum partikel itu bergerak dan masuk ke dalam tubuh,” ucap Eng Manabu Shimada.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini