nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siapa Sangka, Limbah Rumen Sapi Bisa Digunakan untuk Pulihkan Tanah Beracun

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Senin 08 Oktober 2018 17:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 08 65 1961162 siapa-sangka-limbah-rumen-sapi-bisa-digunakan-untuk-pulihkan-tanah-beracun-6H0jiwekC7.jpg Ilustrasi Lahan : (Foto: ant)

SURABAYA – Ketika banyak sapi yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) atau ditempat lainnya, tentu ada bagian lambung sapi yang akan menghasilkan rumen yang menumpuk dan kurang dimanfaatkan. Di dalam lambung itu tentu masih terdapat sisa-sisa makanan yang tersimpan di dalamnya. Sisa makanan itulah yang biasa disebut dengan rumen.

Kota Surabaya sendiri memiliki banyak sekali rumah potong sapi. Namun, selama ini rumen yang didapat dari hasil pemotongan sapi langsung saja dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Bedah Mobil Listrik Ezzy, Hasilnya Cukup Mengagetkan

Beranajak dari kondisi itu, salah satu profesor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Dr Yulinah Trihadiningrum MApp Sc bersama beberapa mahasiswanya berhasil memanfaatkan limbah rumen menjadi obat untuk tanah bekas pertambangan supaya tidak mengandung limbah kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) lagi.

Guru besar dari Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut menjelaskan, ternyata rumen yang telah dikomposting memiliki kandungan Fosfor (P) dan Nitrogen (N2) yang cukup tinggi.

"Rumen yang sudah dikomposting memiliki kandungan-kandungan yang cukup tinggi sehingga bila digabung dengan sampah kebun, akan sangat efektif untuk memberi makan bakteri guna menguraikan tanah pada daerah bekas pertambangan yang beracun,” Ujar Yulinah dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (8/10/2018).

sapi

Menurut Yulinah, bakteri yang sudah ada dalam tanah tersebut, bila dapat terpenuhi kebutuhannya akan bisa menghasilkan biosurfaktan. Secara mudahnya, lanjut Yulinah, biosurfaktan merupakan senyawa yang bisa menggabungkan antara molekul air dengan molekul minyak. Biosurfaktan tersebut selain merupakan senyawa alamiah, juga tidak berbahaya sama sekali bagi lingkungan hidup.

“Selain itu, biaya untuk pembuatan surfaktan tersebut masih bisa dikatakan sangat murah,” jelas lulusan doktor bidang Manajemen Kualitas Air dari University of Antwerp, Antwerpen, Belgia ini.

Lebih lanjut dikatakan Yulinah, sebenarnya biosurfaktan secara komersial sudah ada. Namun, masih berbasis dengan reaksi-reaksi kimia. Sehingga setelah pemakaian deterjen komersial tersebut, akan terdapat sisa-sisa zat kimia yang masih ada di dalam tanah. Zat kimia tersebut juga dianggap belum sepenuhnya aman.

Baca Juga: 87% Mahasiswa Merasa Salah Jurusan, Mahasiswa ITS Buat Aplikasi Aku Pintar

“Di samping itu semua, deterjen komersial juga dinilai cukup mahal ketimbang deterjen dari rumen sapi,” ujarnya.

“Dalam penelitian ini saya dan tim menggunakan sampel tanah tercemar dari pertambangan minyak rakyat yang terletak di Desa Wonocolo, Bojonegoro, Jawa Timur,”lanjutnya

Yulinah menambahkan, kandungan pencemar minyak bumi dalam tanah di kawasan tambang tersebut hingga 10 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 128 tahun 2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknik Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi Secara Biologis.

sapi

Oleh karena itu, perempuan asal Bogor ini juga bersedia jika sewaktu-waktu hasil dari risetnya diminta untuk diterapkan oleh pemerintah.

“Tapi diperlukan kondisi lingkungan yang mendukung, mengingat mekanismenya melibatkan aktivitas mikroorganisme yang membutuhkan kontrol kelembaban, pH, aerasi, dan suhu pada kondisi optimum. Jadi diperlukan prasarana yang memadai untuk menerapkan metode bioteknologi ini,” pungkas Yulinah.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini