nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gempa Tsunami Palu-Donggala, Kemendikbud Siapkan Kebijakan Khusus

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 09 Oktober 2018 12:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 09 65 1961520 gempa-tsunami-palu-donggala-kemendikbud-siapkan-kebijakan-khusus-PDku5WS3tr.jpg Kondisi Gempa dan Tsunami di Palu (Foto: Okezone)

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memutuskan akan menerapkan kebijakan khusus bidang pendidikan di wilayah Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Mautong, Sulawesi Tengah pasca bencana gempa bumi dan tsunami.

Keputusan pemberlakuan kebijakan khusus ini akan di keluarkan sama halnya dengan yang sudah diberikan di Aceh pasca bencana tsunami 14 tahun lalu. Nantinya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang akan mengeluarkan kebijakan tersebut melalui per aturan menteri atau surat edaran.

“Bakal ada (kebijakan khusus). Sama seperti di Aceh. Di Aceh itu kan yang di keluarkan oleh Balitbang atau menteri,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad seusai peluncuran Gala Siswa Indonesia di kantor Kemendikbud, Jakarta.

Baca Juga: Unair Sulap Kelurahan Kengdasari Jadi Wisata Kampung Pelangi

Nantinya akan ada berbagai kebijakan khusus dan salah satunya adalah jadwal Ujian Nasional (UN) yang akan mengikuti kesiapan siswa yang menjadi korban bencana. Jika berkaca pada agenda tahun ini UN pada tingkat SMK berlangsung pada 2-5 April, jenjang SMA pada 9-12 April, dan UN SMP pada 23-26 April.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

Hamid mengatakan, jadwal UN akan dibuat fleksibel bagi anak didik di daerah Palu, Dong - gala, Sigi, dan Parigi Mautong. Hal ini berarti mereka tidak perlu mengikuti jadwal UN yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Kemendikbud dan wajib diikuti seluruh pemerintah daerah.

“Mereka ikut UN jika sudah siap, tidak mengikuti jadwal yang ditentukan. Dulu di Aceh kan sama, ketika mereka tidak bisa belajar dan tidak siap, mereka tidak ikut,” ungkapnya.

Baca Juga: Racik Teh dari Kulit Semangka untuk Diabetes, 4 Mahasiswa Ini Raih Medali Emas di China

Hamid menerangkan saat ini proses belajar tetap dijalankan di Palu meski dalam kondisi darurat. Dia mengungkapkan bahwa kemarin SMPN 13 Palu pun sudah mulai beraktivitas. Lalu kalau mereka eksodus ke daerah atau provinsi lain maka dinas pendidikan setempat akan memfasilitasi untuk mencari sekolah lain.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

Sekolah-sekolah reguler akan membantu mereka bisa mengikuti pelajaran dengan cepat. Mengenai guru, Kemendikbud juga akan mencari guru pengganti jika memang jumlahnya di Palu berkurang. Alternatifnya bisa dengan merekrut para sarjana pendidikan yang baru lulus ataupun meng isinya dengan formasi guru garis depan (GGD).

“Semua upaya kami lakukan nanti. Ini kan baru sebagian guru yang melapor ke sekolah siap mengajar,” katanya. Semua kebijakan ini akan dilakukan sambil memperbaiki infrastruktur yang ada. Dia mengakui tidak seperti di Lombok, maka perbaikan di Palu pasti akan memakan waktu yang lebih lama, bahkan proses pendataan pun sekarang masih dalam proses.

(Feb)

Menurut perkiraan, ada 2.700 sekolah yang terkena dam pak. Proses pendataan ini pun belum maksimal karena dinas-dinas di Palu baru bertugas 3-4 hari lalu. Bahkan, katanya, petugas masih belum bisa mendata Kabupaten Sigi karena masih terisolasi lantaran jalan dan jembatan yang roboh. Menurut Hamid, sekolah darurat sudah dibangun di Palu sesuai dengan kebutuhan. Kemendikbud akan dengan sigap membangun sekolah darurat jika sekolah meminta.

Baca Juga: Unair Siap Terima Mahasiswa Universitas Tadulako untuk Studi Sementara

Sementara mengenai trauma healing, Kemendikbud sudah bekerja sama dengan Unicef. Saat ini banyak pihak yang mau membantu proses pemulihan, namun mereka harus tetap mengacu pada peraturan yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pandu Baghaskoro memaparkan, pemulihan kondisi psikologis sangatlah penting bagi para korban sebelum dapat memulai kembali aktivitas pendidikan.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

Tanpa mental yang baik, tidak mungkin kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan optimal. Se - cara bertahap, setelah kondisi psikologis mulai pulih, barulah dapat memulai materi pembelajaran.

Baca Juga: Mahasiswa Ini Kembangkan Implan Atasi Kanker Tulang

Pandu menyarankan pemerintah untuk mengadakan uji psikologis atau trauma yang cukup menyeluruh yang terukur. Hal ini untuk mengukur kondisi psikologi para korban sebelum akhirnya menentukan momen yang tepat untuk memulai kembali kegiatan pembelajaran.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

“Trauma bisa menjadi masalah berkepanjangan kalau tidak diatasi. Melalui kegiatan-kegiatan pemulihan yang bersifat edukatif dan menghibur, siswa dan para guru bisa dilibatkan. Dengan terlibat dalam kegiatan seperti ini, proses pemulihan pelan-pelan dimulai,” urai Pandu.

Selain itu, pembangunan kembali sekolah-sekolah yang rusak juga harus mendapatkan perhatian. Pendataan sarana dan prasarana pendidikan sangat diperlukan sebagai bagian dari proses pemulihan kondisi psikologi para korban, terutama siswa dan guru, yang memang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar-mengajar. (Neneng Zubaida)

(Feb)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini