nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kesaksian Para Hafidz Tunanetra Bisa Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 10 Oktober 2018 14:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 10 65 1962085 kesaksian-para-hafidz-tunanetra-bisa-selamat-dari-gempa-dan-tsunami-palu-v0gQcj9Nmv.jpg Kondisi Palu Pascagempa (Foto: AP)

JAKARTA - Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII di Medan dan Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) menyimpan banyak cerita menarik dari para peserta. Terutama mereka yang merasakan dahsyat guncangan gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah (Sulteng) saat mempersiapkan diri menjadi peserta MTQ.

Siang kemarin udara cukup panas. Matahari bersinar terang. Tak ada awan yang menghalangi cahayanya menusuk ke bumi. Lalu lintas jalan juga macet penuh kendaraan. Tanpa tekad kuat dan keikhlasan, mustahil orang bisa melewati situasi itu dengan senyuman.

Namun, Hairunnisa Makarau yang baru saja sampai di Asrama Haji Sumut malah menunjukkan sebaliknya. Gadis berumur 20 tahun itu tetap terlihat antusias dan bersemangat menuju Aula King Abdul Aziz, salah satu venue lomba MTQ untuk cabang Tilawah Alquran Golongan Cacat Netra.

“Ini pertama kali saya ikut MTQ Nasional,” ucap Nisa, panggilan akrab Hairunnisa Makarau.

Baca Juga: Relawan Pendidikan Segera Dikirim ke Lokasi Bencana di Sulteng

Nisa adalah anggota kafilah dari Provinsi Sulawesi Tengah yang merasakan gempa besar yang melanda Kota Palu, Sigi, dan Donggala, akhir September lalu. Saat guncangan dahsyat terjadi, siswi kelas 2 SMU SLB Muhammadiyah Palu tersebut sedang mengikuti karantina di Asrama Haji Palu.

“Alhamdulillah, saya dan keluarga selamat,” katanya.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

Bungsu dari enam bersaudara ini bercerita, dia berhasil menyelamatkan diri karena bisa ke luar dari asrama. Meski tidak melihat, tapi Nisa mengaku hafal arah menuju pintu keluar. Dengan mengandalkan ingatannya dia berjalan sambil meraba-raba tembok atau benda di sekelilingnya.

Nisa sempat terjatuh saat berbelok menuju pintu keluar. Beruntung, ada temannya yang menolongnya. “Saya kemudian mengungsi di depan Asrama Haji,” tuturnya.

Baca Juga: Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng

Keberangkatan kafilah Provinsi Sulteng ke Medan tidak mudah. Para peserta MTQ dan ofisial berangkat pada 4 Oktober menuju Balikpapan dengan menumpang pesawat jenis hercules. Mereka kemudian melanjutkan penerbagan transit di Surabaya dan baru sampai Medan pada hari berikutnya.

“Sampai saat ini saya masih trauma, apalagi di Medan ini saya menginap di hotel di lantai lima,” ujar Nisa. Hairunnisa mengaku senang karena pada pembukaan MTQ Nasional di Sumut, Presiden Jokowi mengirimkan doa Al-Fatihah untuk masyarakat Palu. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kepedulian dengan yang lain.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

“Pak Presiden, terima kasih banget karena kepeduliannya pada masyarakat Kota Palu dan sekitarnya,” ujar Nisa yang bercita-cita menjadi guru.

Rasa syukur juga di ungkapkan peserta lomba tilawah Alquran golongan cacat netra lainnya, Syamsuddin. Anggota kafilah asal Provinsi Maluku ini merasa beruntung karena anak nya, Umratul Aulia, tidak menjadi korban gempa yang melanda Lombok, NTB, Agustus lalu. Anak kedua Syam suddin itu merupakan santri di Pondok Tahfiz Alaziziyah Gunungsari, Mataram yang roboh saat gempa Lombok.

“Waktu itu, anak saya sudah pergi melanjutkan pindah ke Bandung, Jawa Barat untuk menjadi hafizah 30 juz,” tutur Syamsuddin yang tidak bisa melihat sejak lahir. Melalui MTQ ini, Syamsuddin berpesan kepada para penyandang disabilitas, termasuk tunanetra, tidak minder dalam pergaulan. Gali potensi yang dimiliki agar bisa setara atau bahkan melebihi orangorang normal lainnya. (Abdul Malik Mubarok )

 

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini