nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prancis Diseret ke Pengadilan Internasional Terkait Uji Coba Nuklir di Polinesia

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 11:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 11 18 1962558 prancis-diseret-ke-pengadilan-internasional-terkait-uji-coba-nuklir-di-polinesia-44eeZvxefy.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

PARIS - Tuntutan hukum telah dilayangkan terhadap Prancis di Pengadilan Kriminal Internasional terkait uji coba nuklir yang dilakukan di Pasifik Selatan. Penelitian lokal menemukan bahwa uji coba nuklir itu telah menyebabkan kanker pada penduduk, tetapi Prancis enggan bertanggungjawab.

Langkah untuk menyeret Paris ke pengadilan internasional itu diumumkan oleh mantan presiden Polinesia Prancis, Oscar Temaru pada pertemuan komisi PBB yang berfokus pada dekolonisasi.

"Kasus ini bertujuan untuk membuat semua presiden Prancis yang masih hidup bertanggung jawab atas uji coba nuklir terhadap negara kami," katanya, sebagaimana dikutip oleh AFP yang dilansir RT, Kamis (11/10/2018).

Temaru mengecam semua uji coba tersebut sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan." Dia mengatakan bahwa dia melihat "tes nuklir Prancis sebagai hasil langsung dari kolonisasi" dan menambahkan bahwa mengajukan gugatan adalah kewajiban moral untuk "untuk orang yang meninggal akibat konsekuensi dari kolonialisme nuklir."

Menurut anggota asosiasi lokal untuk perlindungan lingkungan, Maxime Chan, uji coba nuklir yang dilakukan Prancis telah memicu 368 fallout radioaktif. Limbah radioaktif yang dihasilkan juga dibuang ke laut dan merupakan pelanggaran dari aturan internasional.

Pada Januari, Kementerian Kesehatan Polinesia Prancis merilis angka yang menunjukkan bahwa sekira 9.500 orang telah didiagnosis mengidap kanker dalam 15 tahun terakhir. Total populasi wilayah Pasifik Prancis adalah sekira 290.000 jiwa.

Polinesia Prancis adalah wilayah luar negeri Prancis yang terletak di Pasifik yang dikenal dengan wilayah tujuan wisata populer Tahiti. Tetapi wilayah atolnya digunakan sebagai lokasi uji coba nuklir selama 30 tahun pada abad ke-20. Sedikitnya 193 uji coba nuklir yang melibatkan 150 ribu personel militer dan sipil dilakukan di wilayah itu dari 1960 sampai 1996.

Pada 1996, Presiden Jacques Chirac menutup program uji coba nuklir dan mengalokasikan USD150 juta pembayaran tahunan ke Polinesia Prancis. Namun, Prancis selalu menolak bertanggung jawab atas dampak lingkungan dan kesehatan dari uji coba nuklirnya.

Polinesia Prancis telah lama berusaha mendapatkan kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh uji coba nuklir. Pada 2014, majelis legislatifnya mengajukan permintaan sebesar USD930 juta atas "polusi besar" yang disebabkan oleh uji coba nuklir itu. Negara itu juga meminta tambahan USD132 juta untuk okupasi berkelanjutan dari Atol Fangataufa dan Mururoa, yang digunakan untuk uji coba nuklir.

Pada 2013, dokumen yang masih dirahasiakan mengungkap bahwa plutonium fallout dari uji coba nuklir tersebut meliputi area yang jauh lebih luas dari yang sebelumnya diakui oleh Paris. Pulau wisata terkenal, Tahiti, secara khusus terpapar hingga 500 kali tingkat radiasi maksimum yang diterima.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini