nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejumlah Wilayah Kota Bandung Berpotensi Terjadi Likuefaksi

CDB Yudistira, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 21:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 11 525 1962815 sejumlah-wilayah-kota-bandung-berpotensi-terjadi-likuefaksi-IAGIQTUYdS.jpg Ilustrasi Likuefaksi (Foto: Ist)

BANDUNG - Kepala Sub Bidang 1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PIPW), Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso mengungkapkan, sejumlah titik di Kota Bandung juga memiliki potensi fenomena likuefaksi.

Likuefaksi yaitu hilangnya kekuatan tanah sehingga tanah tersebut tidak memiliki daya ikat. Getaran yang dihasilkan dari gempa membuat tekanan air meningkat dan membuat sifat tanah berubah dari padat (solid) menjadi cair (likuid) yang nantinya meterial tanah berpasir menjadi lumpur.

Sesuai penelitian dari Geodesy Research Group, Institute Technology Bandung & International Decade for Natural Disaster Reduction yang bekerjasama dengan Bappeda Kota Bandung sekitar tahun 1992 sampai tahun 2000 – an, terdapat 10 lokasi di Kota Bandung yang berpotensi likuefaksi. Lokasi tersebut, yaitu Kecamatan Kiaracondong, Antapani, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong dan Kecamatan Bandung Kidul.

“10 kecamatan tersebut mungkin masih berpotensi atau tidak, nanti perlu didata dan di-update ulang. Apakah ada penambahan atau pengurangan, itu kan baru potensi saja,” ujarnya, Kamis (11/10/2018).

Pascagempa dan tsunami Palu 

Sementara itu, aktivitas Sesar Lembang pun perlu diketahui, karena berpotensi gempa untuk sekeliling Kota Bandung. Menurut data Kelompok Keahlian Geodesi, Institut Teknologi Bandung, maksimum magnetudo dari gempa Sesar Lembang 6, 4 – 7 Skala Richter.

(Baca Juga: JK: Kecil Harapan Hidup Warga Hilang Akibat Likuifaksi, Kecuali Mukjizat)

Andry pun menegaskan, agar masyarakat memahami Fenomena Land Subsidence (Penurunan Tanah) berupa perubahan dari level ketinggian tanah terhadap suatu bidang referensi tinggi.

Fenomena tersebut berdampak meluasnya daerah genangan banjir sebagai akibat dari timbulnya daerah daerah amblas atau cekungan banjir, terjadinya retak pada gunung/bangunan, miringnya bangunan dan kerusakan jalan.

Untuk meminimalisir potensi bencana, Pemkot Bandung semakin memperketat perizinan khsusunya Infrastruktur.

“Kalau namanya pembangun, perizinan itu sudah tidak mungkin lagi dihentika. Penduduk bandung yang cukup padat. Antisipasinya, perizinan bangunan dievaluasi. Persyaratannya kita perketat khususnya kawasan yang berpotensi tinggi. Kebijakan tata ruang perlu diintervensi supaya resikonya kecil," tegas Andry.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini