nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Forensik Unair Ikut Identifikasi Korban Palu-Donggala

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Senin 15 Oktober 2018 15:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 15 65 1964256 mahasiswa-forensik-unair-ikut-identifikasi-korban-palu-donggala-EH8qDQNAXO.jpg Mahasiswa Unair (Foto: Website Unair)

SURABAYA – Lima mahasiswa Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) ikut mengambil bagian dalam mengidentifikasi forensik korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Mereka berasal dari mahasiswa magister Ilmu Forensik yang tergerak untuk membantu korban bencana yang terjadi pada 28 September 2018.

Salah seorang di antara lima mahasiswa ilmu forensik di sana adalah Pudji Hardjanto. Menurut Pudji, kelima mahasiswa ilmu forensik Unair bergabung dengan tim Disaster Victims Identification (DVI) Mabes Polri untuk melakukan fungsi identifikasi jenazah korban.

Baca Juga: Berkat Ide Bisnis Foto Album Tiga Dimensi, Mahasiswa Unair Raih Penghargaan di Singapura

“Ada lebih dari 800 jenazah yang telah diidentifikasi. Dalam sehari, sekitar 100 jenazah diidentifikasi,” ujarnya yang dikutip Okezone dari laman Unair, Senin (15/10/2018)

Lebih lanjut, Pudji menceritakan pada hari-hari awal setelah bencana terjadi. Banyaknya pembusukan jenazah masih tampak wajar. Namun, lanjut dia, pada hari ketiga dan seterusnya, kondisinya semakin rusak.

Tim DVI hanya mengandalkan sidik jari, dan properti yang masih melekat di tubuh jenazah. Namun, kebanyakan pakaian sudah terlepas dan hilang dari jenazah. Salah satu jenazah yang berhasil diidentifikasi adalah warga asing dari Korea, yaitu melalui sidik jari.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

“Banyak jenazah telanjang yang ditemukan. Jadi, kami hanya mengandalkan sidik jari,” ucapnya

Identifikasi forensik dilakukan di RS Bhayangkara Palu. Sebab, jelas Pudji, banyak jenazah yang tidak semua bisa teridentifikasi dengan baik.

”Selain mahasiswa forensik Unair, tim lain yang bekerja di bawah kepolisian, ada mahasiswa forensik dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Diponegoro (Undip),” katanya.

Baca Juga: Unair Sulap Kelurahan Kengdasari Jadi Wisata Kampung Pelangi

”Saat ini, identifikasi forensik sudah ditutup karena memang jenazah sulit untuk dikenali. Satu-satunya adalah melalui DNA, tapi butuh waktu dan sampel,” imbuhnya.

Pudji melanjutkan, tim DVI melakukan identifikasi jika ada konflik yang menyangkut hukum.

“Misalnya yang pernah terjadi adalah rebutan jenazah dari dua keluarga karena kondisi jenazah yang mirip,” katanya.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

Kini mahasiswa forensik Unair bersama tim DVI menunggu identifikasi jika memang ada konflik. Sambil menunggu, tim melaksanakan fungsi sosial dengan mendatangi pengungsi-pengungsi terkait kebutuhan mereka. Serta turut menyalurkan bantuan kepada para pengungsi. Termasuk bantuan dari Unair berupa tenda dan bahan makanan.

Pudji dan keempat rekannya berharap semoga apa yang telah dilakukannya selama ini dapat meringankan beban korban-korban untuk mencari anggota keluarga yang hilang dan lebih lanjut dia bisa membantu masyarakat baik berupa materi maupun moril.

”Ketika bertemu pengungsi, kami berkomunikasi dengan mereka, memberikan harapan baik, memberikan semangat kepada mereka bahwa kami semua berbagai elemen membantu. Selain itu, kedepan nama baik Unair bisa dibanggakan oleh almamater maupun masyarakat,” tambahnya.

Perlu diketahui, kondisi terkini terakhir di Palu-Donggala, kegiatan ekonomi sudah mulai membaik. Penjual makanan mulai ada. Toko-toko pun mulai buka. Listrik dan BBM juga sudah lancar. Tentunya bantuan tidak seperti kemarin-kemarin yang harus mencari ke sana kemari. Kini sudah banyak bantuan yang datang.

Baca Juga: Racik Teh dari Kulit Semangka untuk Diabetes, 4 Mahasiswa Ini Raih Medali Emas di China

Sementara itu, Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana Unair Prof., Dr., Anwar Ma’ruf, drh., M.Kes membenarkan adanya lima mahasiswanya yang berangkat ke Palu. Kelima mahasiswa berangkat atas seizin pimpinan. Termasuk dalam hal ini ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Unair.

“Mereka sudah koordinasi dengan pimpinan. Dan, saya koordinasi dengan ketua LPM Unair. Ada lagi yang mau bergabung dari Unair, yaitu dari psikologi, terutama terkait trauma healing,” katanya.

Prof. Anwar berharap mahasiswa forensik mampu membantu saudara-saudara kita di Palu-Donggala dengan baik. Sebab, tenaga dari forensik sangat diperlukan dalam bencana seperti itu.

Melihat Kembali Kondisi Palu dan Donggala yang Hancur Lebur Akibat Gempa & Tsunami

“Di sana, mahasiswa bisa membantu sambil belajar,” ujarnya.

Sebelumnya, atas bencana yang terjadi di Lombok, kata Prof. Anwar, ada mahasiswa forensik Unair yang berangkat, tapi secara individual. Selain itu, Ketua Prodi Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Unair Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An.KAR, juga ada di sana. Berangkat bersama Kapal Ksatria Airlangga.

”Jadi, saat ada bencana seperti ini, Sekolah Pascasarjana Unair aktif memberikan bantuan. Baik dari segi manajemen bencana maupun forensik,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini