Reformasi Perbukuan, Kemendikbud Akan Bentuk Pusat Buku

Koran SINDO, · Selasa 16 Oktober 2018 12:29 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 16 65 1964635 reformasi-perbukuan-kemendikbud-akan-bentuk-pusat-buku-cDXwM3pmnv.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

BOGOR – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memisahkan pusat perbukuan yang saat ini masih tergabung dalam Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk). Tidak hanya sebagai pusat kontrol, pemisahan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas perbukuan.

Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi mengatakan, Kemendikbud akan melakukan reformasi perbukuan. Satu di antaranya dengan pemisahan pusat perbukuan dari Puskurbuk. Pusat buku dan kurikulum akan ditangani oleh dua direktorat berbeda. Saat ini Puskurbuk berada di bawah koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud. “Nanti akan dibentuk Pusat Perbukuan dan akan di bawah(koordinasi) Badan Bahasa,” tandas Didik saat menghadiri kegiatan “Kerja Cerdas Mencerdaskan Bangsa” di Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga:  Deretan Buku Kontroversial Terlarang di Abad 21

Didik mengatakan, Pusat Perbukuan itu didirikan untuk menyinkronkan gerakan literasi dengan kebahasaan. Pusat Buku akan semakin gencar menilai buku-buku baru sehingga peredaran buku akan semakin banyak agar tingkat literasi pun meningkat. Dari penelitian Perpusnas 2017 diketahui rata-rata orang Indonesia membaca buku adalah 3-4 kali per minggu. Durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Kemudian jumlah buku per tahun yang ditamatkan hanya 5-9 buku. Dia mengakui rencana ini memang sedikit mencontek dari Malaysia yang telah memiliki Pusat Perbukuan yang juga berada di bawah tanggung jawab Badan Bahasa.

 buku

“Malaysia juga Pusat Buku di bawah Badan Bahasa. Semoga dengan cara ini perbukuan kita akan semakin maju,” kata Didik. Dengan ada pusat buku ini, harapannya pengaturan soal penciptaan maupun peredaran buku akan semakin baik. Tidak hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitas. Selain itu juga Pusat Perbukuan akan menjadi pusat kontrol agar buku yang beredar tidak menjadi masalah. Menurut Didik, perkembangan buku-buku terjemahan Indonesia saat ini juga sedang bergeliat. Setelah menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, kini sudah ada 1.600 buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Baca Juga: Lagi Digandrungi Milenials, Sally Rooney Jadi Penulis Muda Berkualitas

“Buku kita yang diterjemahkan ke bahasa asing bergejolak luar biasa setelah Frankfurt Book Fair. Dulu tidak lebih dari 100, sekarang sudah mencapai 1.600 buku,” sebutnya. Didik juga mengungkapkan, buku terjemahan bertema islami untuk pasar timur tengah kini sedang digarap. Pameran-pameran buku di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Turki, dan Mesir pun akan sering diikuti untuk lebih memasarkan buku Indonesia ke pasar Timteng. Menurut dia, manfaat lain dari pemasaran buku tentang Islam di Indonesia adalah untuk memperkenalkan Islam di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi toleransi.

buku

Pemerintah juga akan menertibkan penggunaan bahasa yang tidak benar di ruang publik. Dia mencontohkan nama-nama perumahan yang kini banyak memakai bahasa asing sebagai promosinya. Dia mengapresiasi para produser film yang sudah mulai memakai bahasa Indonesia pada film yang mereka garap. Pengamat pendidikan UPI Said Hamid Hasan berpendapat, jika Pusat Perbukuan dipisah dari Puskurbuk, wewenangnya bisa lebih luas lagi dalam mengangkat dunia perbukuan Indonesia dan juga tingkat literasi Indonesia ke arah yang lebih baik.

Hal ini pun sudah sesuai dengan UU Sistem Perbukuan Nomor 3/2017 yang memang mengatur tentang ada Pusat Perbukuan.

(Neneng Zubaidah)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini