Belajar dari Gempa: Jantung Bumi Kemungkinan Lebih Lunak

ABC News, · Sabtu 20 Oktober 2018 09:24 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 20 18 1966568 belajar-dari-gempa-jantung-bumi-kemungkinan-lebih-lunak-FIyMAnyXrp.jpg Ilustrasi (Supplied: Australian National University)

Meski tak dapat bergerak melalui lapisan luar inti terdalam yang cair, Gelombang S mereka berada di inti terdalam yang padat.

Hal diketahui karena saat Gelombang P bergerak melalui lapisan luar menuju inti terdalam, sebagian energinya diubah menjadi Gelombang S.

Gelombang S itu merambat melalui inti terdalam sampai memukul lapisan luar yang cair, di mana gelombang ini diubah lagi menjadi Gelombang P.

Data gempa 2010 hingga 2016

Untuk memperoleh informasi tentang Gelombang S ini, Profesor Tkalčić dan mahasiswa PhD Thanh-Son Phạm, menganalisis kembali data gempa bumi berkekuatan 6,8 lebih yang terjadi antara 2010 dan 2016.

Mereka menganalisis kesamaan-kesamaan pada bentuk-bentuk gelombang.

Analisis mereka dirumuskan dalam konstruksi matematika yang disebut "global correlograms". Rumus itulah yang dipakai menghitung kecepatan Gelombang S melewati inti terdalam.

Ditemukan bahwa Gelombang S ternyata lebih lambat sekitar 2,5 persen dari perkiraan sebelumnya. Karena Gelombang S bergerak paling cepat melalui material yang kaku, maka diperkirakan inti terdalam lebih lembut juga.

Prof Tkalčić mengakui, perhitungan mereka tidak dapat memastikan hal itu.

Mungkin sifat intrinsik dari besi pada kondisi panas dan tertekan di pusat Bumi.

Atau bisa juga kantong-kantong zat cair, diperkaya unsur-unsur lebih ringan, yang terperangkap di inti terdalam.

Peta isi perut Bumi

Menurut Prof Moresi, dengan mengetahui isi perut Bumi secara lebih baik, pakar geofisika kini bisa mempertajam model-model referensi mereka.

"Jika kita mengukur gelombang yang menembus atau memantul dari inti terdalam, kita dapat menggunakannya untuk pencitraan di tempat lain," jelasnya.

Memahami sifat-sifat inti terdalam juga membantu memastikan apakah dia berputar lebih cepat dibandingkan lapisan atasnya.

Mungkin kita akan mendapatkan gambaran lebih akurat dalam beberapa tahun mendatang.

Profesor Tkalčić dan timnya berencana membangun jaringan seismometer di Pulau Macquarie dan sekitarnya, antara Selandia Baru dan Antartika. Area ini mengalami banyak sekali gempa bumi.

Eksperimen bertahun-tahun itu tak hanya membantu kita memahami apa yang terjadi dalam lapisan tanah. Tapi itu juga akan menambah pengetahuan kita tentang inti terdalam atau "jantung" Bumi.

Prof Tkalčić menyebut eksperimen ini sebagai "teleskop besar yang mengarah ke pusat Bumi".

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini