nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Orasi Ilmiah di Untar, Sekjen Kemenprin Beberkan Arah Industri Indonesia di Era Industri 4.0

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Minggu 21 Oktober 2018 16:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 21 65 1966936 orasi-ilmiah-di-untar-sekjen-kemenprin-beberkan-arah-industri-indonesia-di-era-industri-4-0-NhqUeotv3Y.jpg Untar Menggelar Wisuda Sarjana ke-72 (Foto: Vanni)

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar menghadiri wisuda Universitas Tarumanagara di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Dalam orasi ilmiahnya, Haris menekankan soal perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0

Haris mengungkapkan, tantangan nyata bahwa seluruh masyarakat Indonesia akan menghadapi masa perkembangan teknologi. Peran teknologi dapat membantu peningkatan daya saing, hampir setiap lini sektor ekonomi bersinggungan dengan ekonomi.

Dalam hal ini Kementerian Perindustrian menjawab tantangan tersebut salah satunya dengan penerapan Making Indonesia 4.0 sebagai salah satu agenda pembangunan nasional untuk mempercepat pencapaian aspirasi menjadi negara sepuluh ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

“Making Indonesia 4.0 yang suskes nantinya akan mampu mendorong pertumbuhan sebesar 1-2% per tahun dari yang ada pada saat ini. Sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari base line sebesar 5% menjadi 6-7% pada periode 2018-2030,” katanya, Minggu (21/10/2018).

Baca Juga: Wisuda 1.565 Mahasiswa, Rektor Untar: Lulusan Harus Kerja Efektif dan Efisien

Pada tahap awal implementasi Making Indonesia 4.0, Indonesia akan fokus pada lima sektor prioritas yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan busana, industri otomotif, indutsri elektronika, dan industri kimia.

“Kenapa sektro-sektor ini yang dipilih, karena memang 65% peri-peri industri berasal dari lima sektor tersebut. Kemudian 60% dari penyerapan tenaga kerja juga berasal dari lima sektro tersebut, kemudian 65% dari eskpor produk industri berasal dari lima sektor tersebut,” jelasnya.

Making Indonesia 4.0 untuk Industri Manufaktur Berdaya Saing Global

Menurut Haris, dengan sektor-sektor prioritas akan menjadi daya ungkit besar dalam hal pecitaran nilai-nilai tambah perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lainnya seperti kecepatan penterasi pasar.

“Dalam implementasi revolusi industri 4.0 terdapat lima hal mendasar yang perlu menjadi perhatian kita semua yang ini diyakini sebagai fundamental penguasaan teknologi dan akan berdampak terhadap daya saing industri dan daya saing ekonomi nasional. Kelima hal tersebut yaitu, Internet of Things (IoT), Activion Intellegence, Wearables, Advance Robotic, dan 3d Printing,” katanya.

Haris menambahkan, bahwa dalam hal untuk mempercepat proses penerapan indutsri 4.0 Kementerian Perindustrian telah menyusun 10 strategi bagaimana kita Indonesia bisa mencapai 4.0.

“Sebagaimana yang kita harapkan antara lain adalah dengan perbaikan alur aliran barang dan material, desain ulang zona industri, mengakomodasi standar-standar keberlanjutan (sustainability), memberdayakan UMKM, membangun infrastruktur digital nasional, menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas SDM, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, dan juga harmonisasi aturan dan kebijakan,” imbuhnya.

Baca Juga: Rektor Untar Dorong Mahasiswa Jadi Pengusaha

Haris menjelaskan, Implementasi Indonesia 4.0 akan memberikan dampak yang besar bagi perekonomian nasional di mana era revolusi 4.0 ini akan banyak pekerjaaan-pekerjaan yang berkesinambungan dengan teknologi, oleh karena itu tentunya kita harus membekali diri dengan keilmuan yang terutama berkaitan dengan teknologi.

“Menurut studi yang dilakukan oleh Boss The Consultant Group terhadap industri yang ada di Jerman permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan pada segmen F&B dan pengembangan software hingga 96%,” ucapnya.

Making Indonesia 4.0 untuk Industri Manufaktur Berdaya Saing Global

“Selain itu akan muncul jenis pekerjaan yang baru compotiable dengan sistem industri 4.0 diantaranya adalah profesi industrial scientist dan juga masih banyak lagi,” lanjutnya.

Dalam hal ini Kementerian Perindustrian sedang menyusun kurikulum untuk menyiapkan SDM dalam rangka mendukung 4.0 melalui pembangunan pekerja profesi industri.

“Antara lain redesign kurikulum mengacu pada industri 4.0 pada politeknik-politeknik yang ada kemudian pelatihan SDM dibidang industri, pengembangan politeknik-politeknik dalam rangka mendukung industri 4.0 dan juga program studi industri 4.0,” katanya.

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini