nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Hanya di Lombok, ITB Juga Bangun Hunian dari Bambu di Palu

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Senin 22 Oktober 2018 16:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 22 65 1967354 tak-hanya-di-lombok-itb-juga-bangun-hunian-dari-bambu-di-palu-HOZZWDW9Pw.jpg Kampus ITB (Foto:Okezone)

PALU – Tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sedang berada di Palu, membangun shelter untuk hunian sementara dan satu buah modul tunnel untuk warga terdampak bencana gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah.

Pembuatan shelter dan tunnel tersebut dilakukan di Camp Terpadu Palang Merah Indonesia (PMI) di Petobo, Palu. Dibantu TNI, Tim ITB memulai pengerjaan pembuatan modul tunnel tersebut pada Kamis (18/10/2018).

Saat proses pembuatan, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola berkesempatan mengunjungi Camp Terpadu PMI sekaligus melihat kegiatan ITB di Petobo.

Baca Juga: ITB Lakukan Penelitian di Lokasi Tsunami Palu, Hasilnya?

Perancang tunnel dan shelter bambu adalah Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB Andry Widyowijatnoko. Dia mengatakan struktur modul tunel bambu yang berukuran 11.5 x 12 meter itu selesai dibangun pada Sabtu (20/10/2018) dan dapat digunakan untuk aktivitas komunitas pengungsi di Petobo Atas yang beralamat di Jl. Moh. Soeharto.

“Ukuran dari modul tunnel tersebut sangat besar sehingga dapat difungsikan untuk posko kesehatan, penyuluhan, dan kegiatan publik lainnya,” ujarnya yang dikutip Okezone dari laman ITB, Senin (22/10/2018).

itb

Selain bangunan serbaguna, lanjut Andry ITB juga telah membuat dua shelter dari bambu di lokasi yang sama dengan ukuran 4X4 meter tinggi 3 meter.

“Selain dibantu TNI proses pengerjaannya juga dibantu mahasiswa Arsitektur Universitas Tadulako (Untad). Dua shelter keluarga tersebut berhasil dikerjakan dalam waktu kurang dari 2 jam,” ucapnya

Kemudian Andry mengatakan hasil pembuatan huntara tersebut telah diserahterimakan kepada TNI dan PMI diwakili oleh Mayor Arianto untuk dimanfaatkan sebagai fasilitas publik atau sekolah darurat pada Sabtu lalu.

Baca Juga: Tim Satgas ITB Bantu Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Palu

“Tim dari ITB yang membuat shelter bambu berjumlah 4 orang. Selain di Petobo, kami juga membuat 3 shelter lainnya di Jonooge. Alasan dibuat shelter karena tenda-tenda di lokasi tersebut kurang nyaman untuk dijadikan hunian sementara,” jelasnya

Kemudian mahasiswa pascasarjana dari SAPPK-ITB Gilang Iqbal Noegraha menjelaskan pengerjaan shelter ini juga dilakukan kerjasama dengan mahasiswa Arsitektur Untad (Universitas Tadulako).

“Nantinya setelah dari ITB selesai mereka yang akan melanjutkan pengerjaan, karena kita terhambat waktu hanya seminggu jadi sangat terbantu sekali untuk pembuatan di tempat lainnya. Kita juga mengerjakan dibantu TNI," ujarnya.

Lokasi Likuifaksi di Balaroa Palu Akan Dibangun Monumen & RTH

Lanjut Gilang tunnel dan shelter bambu ini ditempatkan di tengah-tengah komplek camp yang berdekatan dengan lokasi tenda bantuan pemerintah Tiongkok dan ruang terbuka.

“Tidak hanya membangun tunnel bambu, sebelum meninggalkan lokasi camp terpadu PMI di Petobo, tim ITB juga menyerahkan satu unit filter pengolah air dengan dua buah produk air bersih dan air minum,” lanjut Gilang.

Gilang menambahkan nantinya pemasangan filter pengolah air tersebut akan dibantu PMI dan TNI AD menunggu jaringan listrik menyala.

“Alat pengolah air tersebut memiliki kapasitas 500 - 1.000 liter per jam air bersih dan 50 - 100 liter per jam air minum, tergantung dari kualitas air baku,” pungkasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini