Kasus Pembakaran Bendera, Kapolda Banten Minta Warga Jangan Terprovokasi

Rasyid Ridho , Sindonews · Sabtu 27 Oktober 2018 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 27 340 1969811 kasus-pembakaran-bendera-kapolda-banten-minta-warga-jangan-terprovokasi-1HiKBgQRWx.jpg ilustrasi.

BANTEN – Kejadian pembakaran bendera dengan kalimat tauhid di Garut pada acara Hari Santri Nasional (HSN) di Garut, Jawa Barat pekan lalu menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Kapolda Banten Brigjen Teddy Minahasa mengimbau kepada masyarakat, khususnya wilayah Banten jangan sampai terprovokasi atas kejadian tersebut.

Ia juga menegaskan jika bendera dengan kalimat tauhid yang dibakar oleh oknum Banser adalah bendera ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), hal itu diketahui setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik Polda Jabar.

"Demi Allah bahwa itu adalah bendera HTI. Saya tegas bahwa yang dibakar di Garut itu bukan bendera tauhid. Itu bisa dipastikan dari pemeriksaan, saksi, pelaku yang mengibarkan bahwa itu adalah bendera HTI ” kata Teddy, Sabtu (27/10/2018).

Menurutnya, HTI merupakan organisasi yang dilarang di Indonesia, berdasarkan UU Nomor 16 tahun 2017. Bukan hanya menurut kepolisian, ulama pun menurutnya menganggap bahwa HTI berbahaya bagi persatuan bangsa. Karenanya, jangan sampai akibat peristiwa tersebut bergejolak sehingga mengancam persatuan umat.

“Ada pihak-pihak yang menggulirkan bahwa yang dibakar adalah bendera tauhid, ini bahaya, ini bisa memicu kemarahan umat muslim bahkan sedunia. Dan faktanya adalah bendera HTI,” tuturnya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi ataupun terpecah belah.

Bendera dibakar

"Oleh karena itu saya imbau kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi ataupun terpecah belah.

Persatuan bangsa dan keutuhan NKRI harus diutamakan," pungkasnya.

Diketahui, para ulama se-Banten melakukan aksi damai tolak provokasi pembakaran bendera HTI di Di depan Masjid Agung Banten pada Jumat, 26 Oktober 2018.

Para ulama menyepakati bendera yang dibakar di Garut adalah bendera milik HTI. Para ulama berdeklarasi dan berjanji tak terprovokasi akibat peristiwa tersebut.

Ulama yang hadir dalam deklarasi itu antara lain Ketua MUI Banten AM Romli, Kiai Matin Syarqawi, Kiai kharismatik Abuya Muhtadi, tokoh pendiri sekaligus ulama Banten Embay Mulya Syarief, dan para pengurus MUI kabupaten/kota.

Para ulama tersebut menyepakati tiga hal. Pertama, bendera yang dibakar di Garut milik HTI, yang keberadaannya sudah dilarang di Indonesia. Kedua, para ulama di Banten mengajak sesama Umat Islam menahan diri dan tidak terprovokasi peristiwa tersebut. Ketiga, para ulama di Banten juga mengajak semua orang berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ulama meminta warga berkomitmen pada situasi yang aman dan kondusif.

Sementara itu, Ketua MUI Banten, AM Romli mengatakan, dirinya tidak meragukan bendera yang dibakar di Garut milik HTI.

(Baca Juga : Polri Telusuri Jejak Digital Tersangka Pembawa Bendera HTI di Garut)

Ia juga mengimbau masyarakat tidak terpancing usaha mengadu domba Umat Islam.

“Kita harus jaga NKRI sebagai warisan ulama. Setiap usaha yang akan melenyapkan NKRI pasti kiai santri tampil lagi,” imbau AM Romli.

(Baca Juga : Pertemuan JK & Pimpinan Ormas Islam Sepakati Akhiri Kekisruhan Pembakaran Bendera Tauhid)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini