Gelorakan Semangat Rakyat, Wiranto Tekankan Aksi Bela Negara Tak Boleh Statis

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 31 Oktober 2018 02:44 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 31 519 1971226 gelorakan-semangat-rakyat-wiranto-tekankan-aksi-bela-negara-tak-boleh-statis-nA4xDrqTXZ.jpg Menko Polhukam Wiranto (Foto: Okezone)

SURABAYA – Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menekankan bahwa aksi bela negara tak boleh statis. Bila dulu bambu runcing dapat digunakan untuk mengusir penjajah, di era sekarang belum tentu bisa.

“Artinya, harus ada upaya untuk mencarikan cara agar kita bisa melakukan aksi bela negara dengan mengikuti perkembangan zaman," ujar Wiranto kepada wartawan, Selasa (30/10/2018).

Solusi tersebut terdapat dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2018, karena kata Wiranto, ini bertujuan untuk mengarahkan dalam membimbing masyarakat agar dapat melaksanakan bela negara dengan baik, dan konsepnya itu, diserahkan kepada Dewan Ketahanan Nasional.

(Baca Juga: Wiranto: Program Bela Negara Penting untuk Menangkal Ujaran Kebencian dan Radikalisme)

Upaya untuk mewujudkan itu, pihaknya terus mengenalkan tentang aksi bela negara sesuai Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara Tahun 2018-2019 agar bisa menggelorakan ke masyarakat tentang pentingnya aksi bela negara.

“Sekarang masalahnya adalah bagaimana kita membangkitkan sesuatu yang sudah wajib nanti di dalam dada seluruh warga negara Indonesia, yang sudah wajib menjadi aksi, bukan terbatas wacana dan rencana, tapi aksi, tingkah laku dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari harus sudah mengisyaratkan bahwa dia sudah menerapkan dan melaksanakan bela negara. Tentunya cara itu yang harus kita cari, sosialisasikan, kendalikan dan sinkronisasikan,” ujarnya.

Wiranto

Wiranto turut mengungkapkan hal tersebut ketika menghadiri Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Bela Negara dengan tema "Sosialisasi Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara Tahun 2018-2019" di Surabaya, Jawa Timur.

Mantan Panglima ABRI itu menambahkan, kementerian dan lembaga juga diharapkan mampu melaksanakan Inpres ini sebagai satu aktivitas bela negara untuk tahun 2018-2019 dalam kehidupan sehari-hari.

"Kalau sudah hidup dalam suasana bela negara maka naik taksi saja sudah ada bela negara atau ketika kita berada di tempat wisata ada moto bela negara,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam, Arief P Moekiyat mengatakan, Rencana Aksi Nasional Bela Negara Tahun 2018-2019 dibagi tiga tahap. Pertama, tahap sosialisasi, harmonisasi, sinkronisasi, koordinasi dan evaluasi. Kedua, internalisasi nilai-nilai dasar bela negara, dan ketiga adalah aksi gerakan.

"Kita ini sekarang baru masuk tahap pertama, namun selanjutnya kita berharap secara beriringan kita bisa masuk ke tahap internalisasi yang meliputi tentang terbangunnya urgensi bela negara serta terbangunnya nilai-nilai dasar bela negara, " ujar Arief.

(Baca Juga: Tekan Radikalisme, Pendidikan Bela Negara Dibuka di Universitas Siliwangi)

Arief menuturkan, bahwa rencana aksi bela negara ini dapat mengikutsertakan peran masyarakat dan pelaku usaha sesuai peraturan perundang-undangan dan tentu saja harus dilakukan sesuai dengan modul-modul yang ditetapkan oleh Sekjen Wantannas.

"Kita harapkan peran kementerian dan lembaga menciptakan suasana bela negara dan saya optimis sesuai dengan komitmen kita semua maka Insya Allah kita bisa melaksanakan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 ini," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini