nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Taktik Pertanian Korsel di Balik Magic Jar Yong Ma hingga K-Pop

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 02 November 2018 14:14 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 02 65 1972421 taktik-pertanian-korsel-di-balik-magic-jar-yong-ma-hingga-k-pop-prXmwZzJxC.jpg Di balik magic jar Yong Ma, Kimci dan K-Pop ada sebuah taktik pertanian Korea Selatan. (Foto: Unej)

JAKARTA - Apakah hubungan antara magic jar merek Yong Ma, kimchi, K-Pop dan pertanian Korea Selatan (Korsel)? Magic jar merek Yong Ma adalah salah satu produk penanak nasi yang populer di Indonesia, kimchi makanan khas Korea, sementara K-Pop adalah produk budaya populer Korsel berupa lagu dan film yang digemari banyak orang, termasuk kalangan muda di Indonesia.

Sekilas memang tidak ada hubungan langsung di antaranya, tapi jika ditelisik lebih jauh ternyata ada satu hal yang menghubungkan ke semuanya, yakni kebijakan pertanian yang terintegrasi.

Penjelasan ini disampaikan oleh Prof. Lee Won Young, dari Kyungpook National University (KNU) Korsel saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Program Studi Magister Bioteknologi Universitas Jember, Gedung Pascasarjana, dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Jumat (2/11/2018).

Baca Juga : Era Big Data, Iklan Ayam Cepat Saji hingga Judi Online ada di HP

Menurut Prof Lee Won Young, pemerintah Korea Selatan serius mengembangkan sektor pertanian, dibuktikan dengan membuat kebijakan pertanian yang terintegrasi. Pemerintah Korsel menetapkan daerah khusus di mana dalam satu wilayah terdapat lahan pertanian, pabrik pemrosesan hasil pertanian, beserta fasilitas pendukung yang dilengkapi fasilitas pemasaran.

"Jadi contohnya, kami tidak hanya memproduksi beras saja, tapi beras yang unik misalnya mengandung betakaroten dengan bioteknologi yang dikemas dengan baik. Tidak hanya mampu menghasilkan beras, kami juga membuat penanak nasinya juga, yang kemudian dipasarkan oleh bintang-bintang K-Pop. Mereka inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran produk Korea Selatan, termasuk mempopulerkan kimchi juga. Kini Korea Selatan memasuki tahapan pertanian yang dikenal sebagai era masyarakat industri pertanian yang keenam,” jelas pria yang sehari-harinya mengajar di School of Food Science Biotechnology, KNU.

Namun Prof Lee Wo Young menambahkan, keberhasilan Korsel mengembangkan pertanian hingga seperti saat ini melalui proses yang panjang. Dimulai pada dekade tahun 1960-an, kemudian pada dekade 1970-an muncul perusahaan swasta yang mulai terlibat dalam mekanisasi bidang pertanian, yang dilanjutkan dengan periode tahun 1990-an dengan modernisasi pertanian, serta dekade 2010-an yang mulai memasuki era internet of things (IoT) dalam pertanian.

Baca Juga : Tingkatkan Kualitas Produksi Tempe, Mahasiswa Unej Berhasil Temukan Metode Medan Magnet

“Saya melihat Indonesia juga memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan pertanian, asal memiliki komitmen membuat kebijakan pertanian yang baik, apalagi didukung oleh sumber daya alam, dan ketersediaan sumber daya manusia yang melimpah,” imbuhnya.

Penjelasan guru besar di bidang pemrosesan pangan ini memantik diskusi hangat, salah satunya pertanyaan dari Sony Sisbudi Harsono, dosen Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Sony menanyakan cara pemerintah Korea Selatan mengedukasi para petaninya. Menurut Prof. Lee Won Young, salah satu caranya adalah pemerintah Korea Selatan bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk memberikan pendidikan bagi petaninya.

“Seperti kami di KNU memiliki akademi petani yang memberikan banyak pelatihan, serta meneruskan berbagai informasi dan kebijakan yang diputuskan pemerintah Korsel di bidang pertanian,” jawabnya.

Baca Juga : Tingkatkan Kualitas Produksi Tempe, Mahasiswa Unej Berhasil Temukan Metode Medan Magnet

Penjelasan Prof. Lee Won Young mendapatkan dukungan dari Prof. Tri Agus Siswoyo, Ketua Program Studi Magister Bioteknologi, Pascasarjana Universitas Jember. Menurutnya, Universitas Jember bakal memfasilitasi para petani di Besuki Raya untuk mendapatkan berbagai pelatihan melalui fasilitas Science Techno Park (STP) di Jubung, Kecamatan Sukorambi, Jember, yang kini masih dalam taraf pembangunan dengan bantuan dari Islamic Development Bank.

Baca Juga : Era Big Data, Iklan Ayam Cepat Saji hingga Judi Online ada di HP

Kegiatan kuliah umum bertema 6th Order Industry for Agriculture Society Which Related with Korea Policy ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para mahasiswa Program Studi Magister Bioteknologi Universitas Jember.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini