nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kuliah Tak Membantu Kesiapan Kerja Mahasiswa Baru Lulus?

Senin 05 November 2018 07:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 04 65 1973150 kuliah-tak-membantu-kesiapan-kerja-mahasiswa-baru-lulus-Jn7YmLLdxt.png

JAKARTA – Keluhan bahwa kuliah tidak membantu kesiapan kerja tidak hanya datang dari para fresh graduate yang merasa diri kurang percaya diri memasuki dunia kerja, tapi juga dari perusahaan yang merasa pelamar kerja yang baru lulus kerap tidak kompeten.

Universitas diakui memang mengajarkan keahlian teknis dan teori dasar sebagai pintu gerbang pemahaman terhadap pilihan karier yang dipilih.

Baca Juga: Kuliah Teknik Industri, Kalau Lulus Bisa Bekerja Jadi Apa Saja?

Melansir Qerja, Senin (5/11/2018), namun peran institusi pendidikan tinggi dalam mengajarkan soft skill pada para siswa dianggap masih minim.

1. Universitas Kurang Memperhatikan Pengembangan Soft Skill

Lanskap dunia kerja di beberapa dekade terakhir mengalami perubahan besar-besaran. Semakin banyak perusahaan yang melakukan transisi dari struktur korporasi kaku dan formal menjadi lebih terbuka dan santai. Lingkungan kerja ini pun menuntut sumber daya manusia yang dinamis dan fleksibel.

Sementara itu, perubahan besar ini tidak terlalu tampak di dunia pendidikan yang menyuplai tenaga kerja bagi perusahaan. Sederhananya, sistem dan model yang diterapkan universitas pada umumnya tidak banyak berubah seperti patuh pada silabus (rencana pembelajaran) yang telah disusun untuk murid dan fokus terhadap nilai akhir alih-alih proses pemecahan masalah.

Baca Juga: Stanford University Jadi Kampus Paling Inovatif, Ini Rahasianya!

Di tempat kerja modern, pegawai ideal diharapkan menguasai kemampuan menganalisa masalah, mengambil keputusan dengan cepat, dan mengkomunikasikan solusi dengan baik. Terlebih lagi, mereka juga perlu mampu bekerja sama dengan individu-individu dari latar belakang berbeda.

Tidak semua keahlian ini diajarkan di dalam ruang kuliah dan para siswa juga tidak terlalu didorong untuk mengembangkannya. Topik dasar yang dibutuhkan tenaga kerja masa depan seperti menulis surat lamaran yang baik atau melakukan pitching yang optimal juga hampir tidak pernah digalakkan di silabus kuliah konvensional.

(Feb)

Mayoritas mata kuliah inti untuk jurusan-jurusan tertentu seperti sains dan teknologi memang dirancang untuk mengajar siswa mengurai problema secara logis dan kritis, tapi bagaimana dengan jurusan lain?

Terlebih lagi, pekerjaan yang butuh keahlian teknis dulu memang menjadi dominasi lulusan universitas. Namun kini dengan semakin banyaknya opsi belajar selain kuliah, misalnya kelas online atau kursus, perusahaan mulai melirik kandidat-kandidat berkualitas dengan pengalaman kerja lebih, walau mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan elit.

Tanpa adanya program pendidikan soft skill bagi lulusan universitas, apakah ini berarti gelar sarjana kelak sama sekali tidak lagi menjadi jaminan mendapat pekerjaan? Bisa jadi.

2. Solusi Untuk Kandidat Kerja Masa Depan

Jika ditanya apakah universitas mempersiapkan murid-muridnya untuk masuk ke dunia kerja, jawabannya tidak sesimpel ya atau tidak. Alasannya sesederhana tidak semua murid terpapar peluang sama untuk memperoleh keahlian yang dibutuhkan saat bekerja.

Bukan berarti universitas saat ini sama sekali ketinggalan soal mempersiapkan generasi talenta masa depan. Di banyak kampus tersedia career center yang diharapkan mampu memandu para siswa dengan nasihat karier. Selain itu, kewajiban magang sebagai persyaratan lulus juga menjadi poin plus di CV murid.

Universitas sebetulnya juga menyediakan sarana mengasah soft skill dengan pilihan kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi. Siswa yang aktif dengan kegiatan di luar kelas pun berkesempatan melatih kepemimpinan dan manajemen waktu.

Tidak semua permasalahan di atas bisa dilimpahkan pada universitas. Banyak individu masih terlalu fokus pada jurusan kuliah yang diambil: kira-kira jurusan apa yang paling menjamin stabilitas karier dan gajinya paling tinggi? Padahal, dengan budaya kerja modern yang semakin luwes, jurusan yang dipilih calon pegawai masa depan tidak lagi sepenting adanya pengalaman kerja dan soft skill.

Sebuah institusi pendidikan yang mentereng tidak ada gunanya jika para muridnya tidak proaktif. Dengan membangun keahlian melalui pengalaman berorganisasi, kegiatan ekstrakurikuler, dan magang, kandidat bisa menunjukkan bahwa mereka adalah pilihan kompeten yang siap kerja.

(Feb)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini