nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Jerat Candu Pembalut Rebus yang Menyasar Anak-Anak di Jateng

Taufik Budi, Jurnalis · Kamis 08 November 2018 14:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 08 512 1975087 ini-jerat-candu-pembalut-rebus-yang-menyasar-anak-anak-di-jateng-ZT9ebP24Dd.JPG Ilustrasi Pembalut (foto: Mothermoonpads)

SEMARANG – Anak-anak di Jawa Tengah tak mudah lepas dari jerat kecanduan minum air rebusan pembalut wanita. Akibatnya, mereka kerap kehilangan konsentrasi dan kesadaran karena berada dalam kelompok yang memiliki perilaku menyimpang.

Psikolog yang fokus pada penanganan adiksi, Indra Dwi Purnomo, menyampaikan, pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial sekaligus makhluk pencari kesenangan. Termasuk anak-anak yang tak bisa lepas dari peran sosial bersama teman-teman yang mencoba mencari kesenangan.

(Baca Juga: Remaja Kecanduan Air Rebusan Pembalut, Dinkes Semarang Terjunkan Tim) 

“Sebagai makhluk sosial ini misalnya ketika ada anak yang mendapat tawaran barang-barang (narkoba dan sejenisnya). Kalau dia menolak bakal enggak enak, makanya dia yang awalnya menolak lama-lama menjadi mau,” kata Indra, Kamis (8/11/2018).

 

Sementara sebagai pencari kesenangan, manusia cenderung melakukan hal-hal yang menghibur diri dan berbahagia ketika ditimpa masalah. Tak jarang, orang pun jatuh ke lembah candu narkoba atau pembalut rebus agar bisa menghilangkan problematikanya.

“Mereka mengatakan ada banyak di luar sana yang sesungguhnya belum tertangani itu ada puluhan orang (kecanduan minum air rebusan pembalut),” terang Indra yang bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng untuk menangani anak-anak pecandu ini.

(Baca Juga: Tak Hanya Jateng, Ternyata Ada Remaja di Jakarta Kecanduan Rebusan Pembalut) 

Salah satu cara ampuh untuk menanggulangi selain terapi psikologi adalah memisahkan anak-anak tersebut dari komunitasnya. Kemudian, mereka masuk pada komunitas baru dengan aktivitas yang berbeda dari segala kebiasaan buruk semula.

“Kita memberikan alternatif mereka supaya enggak ada di komunitasnya. Lalu kita bentuk regulasi aktivitas komunitas yang baru, supaya dia tidak masuk lagi di situasi awal. Kita latih untuk mengenali situasi berisiko, karena mereka (pecandu) tidak bisa lihat barang-barang (narkoba dan sejenisnya karena akan muncul hasrat untuk menyalahgunakannya lagi),” pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini