BPOM Sebut Kasus Rebusan Pembalut Ranah Dinas Kesehatan

Taufik Budi, Sindo TV · Kamis 08 November 2018 17:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 08 512 1975166 bpom-sebut-kasus-rebusan-pembalut-ranah-dinas-kesehatan-gqrwXyEyEF.jpg BPOM (Foto: Doc Okezone)

SEMARANG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan tak ikut menangani kasus puluhan anak yang kecanduan minum air rebusan pembalut wanita di Jawa Tengah. Belum diketahui pasti kandungan gel dalam pembalut yang bila direbus, airnya bisa menimbulkan efek fly dan memabukkan.

“Terkait produk pembalut, produk tersebut bukan kategori obat dan makanan yang menjadi komoditi pengawasan BPOM,” ujar Kepala Balai BPOM Semarang, Safriansyah, ketika dikonfirmasi maraknya anak-anak kecanduan pembalut rebus, Kamis (8/11/2018).

(Baca Juga: Heboh Kecanduan Pembalut Rebus, BNN: Anak-Anak Ini karena Kurang Hiburan)

BNN dalami temuan rebusan pembalut di Jateng

Ia menyampaikan, pembalut wanita yang berfungsi menyerap darah haid merupakan bagian dari perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT). Pengawasan barang-barang tersebut berada di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Pembalut tergolong PKRT yang dikawal oleh Kementerian Kesehatan. Mungkin lebih tepat ditanyakan ke Dinkes, yang lebih memahami produk tersebut,” lugasnya.

Sekadar diketahui, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah menemukan fenomena anak-anak yang mudah bengong dan kehilangan konsentrasi. Setelah diselidiki, anak-anak usia 13-16 tahun tersebut menjadi pecandu air rebusan pembalut.

 Ilustrasi pembalut

Awalnya, anak-anak yang memasuki usia remaja itu gemar merebus pembalut bekas pakai yang ditemukan di tempat-tempat sampah. Dalam perjalanannya, mereka beralih ke pembalut yang baru dibuka dari kemasannya karena dianggap lebih higienis.

(Baca Juga: Ini Jerat Candu Pembalut Rebus yang Menyasar Anak-Anak di Jateng)

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng, AKBP Suprinarto, mengatakan, anak-anak pecandu pembalut rebus itu ditemukan di daerah-daerah pinggiran seperti Rembang, Purwodadi, Kudus, dan Semarang bagian timur. Mereka nekat mengonsumsi barang berbahaya itu karena tak memiliki cukup uang untuk membeli narkotika.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini