nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alumni 212 Bantah Sebut BIN Dalangi Pemasangan Bendera Tauhid di Rumah Rizieq

Fahreza Rizky, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 16:22 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 09 337 1975631 alumni-212-bantah-sebut-bin-dalangi-pemasangan-bendera-tauhid-di-rumah-rizieq-xrksREGyYQ.jpg Habib Rizieq (Okezone)

JAKARTA - Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif membantah pihaknya menyebut Badan Intelijen Negara (BIN) sebagai dalang yang memasang bendera bertulis kalimah tauhid di tembok rumah Imam Besar FPI Rizieq Syihab di Makkah. Akibat bendera itu, pentolan FPI tersebut diperiksa otoritas keamanan Arab Saudi meski saat ini telah dilepaskan.

"Kami nggak pernah sebut intelijen Indonesia. Saya nggak bilang Indonesia, HRS gak pernah sebutkan kata Indonesia, tak pernah sebut kata BIN," kata Slamet di Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

 Baca juga: GNPF Ulama: Kapitra Sudah Bukan Pengacara Habib Rizieq

Slamet menuturkan, pihaknya hanya menduga ada skenario intelijen tanpa menambahinya dengan kata Indonesia atau BIN terkait kasus Rizieq tersebut. Namun begitu, ia heran BIN justru bereaksi atas kasus ini. Padahal, nama lembaga tersebut tidak pernah disebut-sebut.

 Bendera Tauhid di Rumah Rizieq

"Hanya skenario intelijen yang kita sebutkan. Kan bisa dari mana saja. Tapi kemudian kok BIN yang bereaksi, anda bisa simpulkan sendiri," tandas Slamet.

 Baca juga: KJRI Jeddah Berikan Kekonsuleran kepada Habib Rizieq

Juru Bicara BIN Wawan Hari Purwanto sebelumnya membantah terlibat dalam kasus pemasangan bendera Tauhid di rumah Rizieq hingga yang bersangkutan diamankan otoritas keamanan Arab Saudi.

Sementara, Juru Bicara Front Pembela Islam (Jubir FPI), Munarman mengungkapkan bahwa Habib Rizieq telah dimintai keterangan tentang siapa saja orang yang dicurigainya sebagai pelaku fitnah pemasangan bendera mirip simbol ISIS tersebut.

 Baca juga: Dituding Rekayasa Kasus Bendera Habib Rizieq, BIN: Itu Hoaks!

"Beliau (Habib Rizieq) menyampaikan bahwa pihak yang diduga kuat sebagai pelaku adalah intelijen busuk dari Indonesia," ujar Munarman.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini