nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bikin Anak-Anak Kecanduan, Ternyata Pembalut Berisi Bahan Pembersih Lantai

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 18:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 09 512 1975729 bikin-anak-anak-kecanduan-ternyata-pembalut-berisi-bahan-pembersih-lantai-OQUzQoz0eb.jpg Pembalut wanita. (Foto: Dr. Mercola)

SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah akhirnya angkat bicara tentang maraknya anak-anak yang kecanduan minum air rebusan pembalut wanita. Pembalut yang berfungsi menyerap darah haid menggunakan bahan kimia senyawa klorin untuk pemutih pakaian dan pembersih lantai.

“Kalau pembalut itu (isi gel) biasanya untuk pemutih dan desinfektan yaitu menggunakan klorin. Lalu juga bahan yang menyerap, karena fungsinya pembalut adalah menampung atau menyerap darah haid,” kata Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo, Jumat (9/11/2018).

Mestinya bahan kimia klorin bermanfaat bagi beragam kebutuhan. Namun, bahan tersebut disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu hingga masuk ke tubuh manusia. Padahal klorin dalam konsentrasi yang tinggi sangat berbahaya dan beracun bagi semua makhluk hidup.

Ilustrasi.

“Sebenarnya kalau semacam klorin biasa kita pakai di kebutuhan rumah tangga, pemutih pakaian, pembersih lantai. Lalu juga desinfektan kolam renang dan sebagainya. Bahan seperti itu banyak digunakan rumah tangga. Manfaatnya banyak, tapi yang menjadi masalah bukan manfaatnya tapi penyalahgunaannya,” terangnya.

(Baca juga: Remaja di Jateng Coba Pembalut Rebus karena Ingin Merasakan Sensasi Nyabu)

“Kalau masuk ke tubuh dampaknya dalam jangka panjang tentunya mengganggu kesehatan kita, mengganggu organ-organ kita. Bisa menjadi karsinogenik dan sebagainya,” lugas dia.

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng menemukan kasus tersebut di beberapa daerah. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang mendiami wilayah pinggiran kota, seperti Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, menyebut, anak-anak yang mulai kencanduan mengonsumsi air rebusan pembalut masih pada usia pelajar yakni 13-16 tahun. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama bagi anak-anak tersebut, karena tak mampu membeli sabu yang harganya mencapai jutaan rupiah per gram.

“Narkotika ini pada kelompok tertentu mungkin mahal, sehingga pada kelompok masyarakat tertentu bagi anak-anak ini yang masih mencoba terutama anak jalanan, juga pingin seperti itu (mengonsumsi sabu),” kata Suprinarto.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini