nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dinkes Gandeng BPOM Atasi Anak-Anak Kecanduan Pembalut Rebus

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 20:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 09 512 1975785 dinkes-gandeng-bpom-atasi-anak-anak-kecanduan-pembalut-rebus-pXwZStN4Hh.JPG (Foto: Mothermoonpads)

SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang untuk menangani kasus anak-anak yang kecanduan air rebusan pembalut wanita. Petugas akan meneliti kandungan bahan-bahan kimia dalam pembalut yang disebut anak-anak bisa membuat 'teler' seperti narkotika.

“Kami dan teman-teman juga Badan POM baru melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kandungan kimiawinya bahan pembalut itu. Dan itu merupakan suatu perilaku yang tidak sehat,” ujar Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo, Jumat (9/11/2018).

Meski demikian, dia menyampaikan, perilaku anak-anak untuk memperolah kesenangan sesaat itu merupakan perilaku tak baik. Selain merugikan kesehatan tubuh, daya nalar anak-anak bersusia 13-16 tahun yang kecanduan itu juga akan terganggu.

“Perilaku semacam itu, apapun bahan yang dipakai, apapun bahan yang diminum atau dihirup atau dihisap, itu bisa mempengaruhi, menekan atau memacu saraf-saraf otak. Itu adalah hal yang merugikan kesehatan kita,” tegasnya.

(Baca juga: Ini Jerat Candu Pembalut Rebus yang Menyasar Anak-Anak di Jateng)

Kepala Balai BPOM Semarang, Safriansyah sebelumnya menyatakan tak ikut menangani kasus puluhan anak yang kecanduan minum air rebusan pembalut wanita di Jawa Tengah.

“Terkait produk pembalut, produk tersebut bukan kategori obat dan makanan yang menjadi komoditi pengawasan BPOM,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Foto: Ist

Dia menyampaikan, pembalut wanita yang berfungsi menyerap darah haid merupakan bagian dari perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT). Pengawasan barang-barang tersebut berada di bawah Kementerian Kesehatan.

“Pembalu tergolong PKRT yang dikawal oleh Kementerian Kesehatan. Mungkin lebih tepat ditanyakan ke Dinkes, yang lebih memahami produk tersebut,” lugasnya.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, menyebut, anak-anak yang mulai kencanduan mengonsumsi air rebusan pembalut masih pada usia pelajar yakni 13-16 tahun. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama bagi anak-anak tersebut, karena tak mampu membeli sabu yang harganya mencapai jutaan rupiah per gram.

“Narkotika ini pada kelompok tertentu mungkin mahal, sehingga pada kelompok masyarakat tertentu bagi anak-anak ini yang masih mencoba terutama anak jalanan, juga pingin seperti itu (mengonsumsi sabu),” kata Suprinarto.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini