TKN Jokowi-Ma'ruf Sebut Prabowo Mungkin Masuk Salah Satu Politisi Genderuwo

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 17:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 09 605 1975673 tkn-jokowi-ma-ruf-sebut-prabowo-mungkin-masuk-salah-satu-politisi-genderuwo-yA7dNF8nWO.jpg Wakil Ketua Tim Koalisi Indonesia Kerja Abdul Kadir Karding (Foto: Okezone)

JAKARTA - Wakil Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK), Abdul Kadir Karding menyebutkan jika Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto jika tidak memperbaiki cara komunikasinya bisa masuk ke dalam katagori politisi Genderewo.

"Jadi kalau pak Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang agitator dan propagandis terkait hal- yang menakutkan, mungkin, salah satu yang disebut yang dimaksud salah satunya pak Prabowo (seorang Politisi Genderewo)," katanya kepada wartawan, Jumat (9/11/2018).

Menurut Karding, ungkapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait politisi genderowo dimaksudkan kepada seorang politisi yang menyebarkan agenda provokatif.

"Jadi, pernyataan Presiden Jokowi soal politik Genderuwo itu adalah satu pernyataan simbolik yang ditujukan kepada semua orang, pemimpin, politisi yang di dalam pernyataan-pernyataanya (menimbulkan huru-hara)," tambahnya.

Lebih lanjut, Karding menjelaskan maksud politisi genderewo adalah pribadi yang selalu membangun opini ketakutan dan kegalauan di lingkungan masyarakat. Hal inilah yang menjadi tujuan para politisi Genderewo.

"Kampanyenya selalu membangun narasi-narasi propaganda, tentang ketakutan, tentang kegalauan di tengah-tengah masyarakat," bebernya.

(Baca Juga: Jokowi Ajak yang Marah-Marah Hijrah, TKN Bilang Bukan Cuma untuk Prabowo)

Dari jebakan opini politisi Genderewo, masyarakat dihantui oleh isu-isu palsu, berita bohong di mana-mana, sehingga dengan mudah dipecah belah.

"Jadi rakyat sedemikian rupa dihantui oleh isu-isu palsu, isu-isu hoaks, fitnah, nyinyir yang tujuannya adalah untuk menakut-nakuti rakyat, kemudian menjadikan rakyat pada titik stres, galau, dan menurunkan optimisme atau menjadikan rakyat semakin pesimis," tuturnya.

Padahal, Karding mengungkapkan sejatinya kehadiran politisi semestinya membuat tenang, nyaman, bergembira, dan senang hati mendapatkan pendidikan.

"Jadi pak Joko Widodo ingin menyatakan kepada kita bahwa politik ini adalah proses demokrasi. Yang membutuhkan keterlibatan rakyat dalam prosesnya. JKarena keterlibatan ini penting, karena kita berangkat dari prinsip rakyat berdaulat artinya segala sesuatu pada hakikatnya yang memutuskan adalah rakyat, rakyat mesti diberi pendidikan politik mesti diberi pernyataan-pernyataan yang bisa dicerna oleh akal sehat sesuai dengan adat kebudayaan kita, dan tentu memiliki makna optimisme kedepannya," tutupnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini