nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Mahasiswa ITS Jadi Sukarelawan di Lombok

Andrea Heschaida Nugroho, Jurnalis · Sabtu 10 November 2018 16:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 10 65 1976020 kisah-mahasiswa-its-jadi-sukarelawan-di-lombok-h87BUwMeu8.jpeg foto: Institut Negeri Surabaya

JAKARTA - Lima Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menjadi sukarelawan untuk di Lombok Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut, membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi beberapa bulan yang lalu. 

Kelima mahasiswa itu, bernama, Ikhsan, Fiamanati Sulaiha, Olga Amelia Veda Putri dan Muhamad Ferdian Hendrawan. Kebetulan, angkatan Ikhsan dan tiga rekannya adalah angkatan terakhir dari total sepuluh angkatan yang diterbangkan ke Lombok yang terdiri dari mahasiswa berbagai departemen dan unit kegiatan mahasiswa. Tugas sukarelawan mahasiswa tersebut antara lain, melakukan survei, pendataan, dan lainnya.

Mahasiswa its

Ikhsan, mengatakan, terdapat kesulitan sukarelawan mahasiswa ITS untuk bisa beradaptasi dengan masyarakat, misalnya saja menyoal bahasa. Sebab, masyarakat Lombok sendiri menggunakan bahasa Sasak. Dan tidak sedikit pula yang tidak menguasai bahasa Indonesia.

 "Jadi komunikasinya susah," ujarnya seperti dikutip Okezone dari laman ITS, Sabtu (10/11/2018).

Tak hanya bahasa, lanjut dia, perbedaan tradisi seperti cara makan yang tidak menggunakan sendok garpu juga membuatnya kaget. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat itu adalah hal lumrah, namun diakui Ikhsan, di Lombok ada perbedaannya.  

"Tidak peduli makanan kering ataupun berkuah, tetap saja tanpa sendok garpu," jelasnya.

Namun, tutur dia di samping itu semua, mahasiswa angkatan 2015 ini mengaku lebih banyak merasakan sukanya dibanding duka. Sebab, menurutnya, dengan menjadi sukarelawan ia dapat banyak pengalaman tak ternilai. 

its

"Kemudian bisa menceritakannya ke masyarakat di luar Lombok agar dapat menginspirasi orang lain untuk dapat saling bantu-membantu satu sama lain," tuturnya. 

Dia menambahkan, satu hal yang membuat mahasiswa asal Bogor ini terkesan adalah sifat gotong royong masyarakat yang sangat tinggi. Khususnya, masyarakat di Desa Rempek Darussalam yang menjadi tempat ia dan tiga rekannya melakukan kegiatan sukarela ini. 

"Selama tujuh hari di sini, kami belajar banyak hal. Salah satunya sifat saling membantu ini yang mungkin tidak akan saya temukan di tempat lain," ungkapnya.

(Baca juga: Pengakuan Jasruddin saat Nyanyi 'Titip Rindu Buat Ayah' Bikin Wisudawan Nangis)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini